Momen Istri Brigadir Nurhadi Menangis Saat Bersaksi di Persidangan

2026-02-04 02:33:52
Momen Istri Brigadir Nurhadi Menangis Saat Bersaksi di Persidangan
MATARAM, - Elma Agustina, istri almarhum Brigadir Nurhadi tak kuasa menahan tangis saat hadir menjadi saksi di sidang kasus pembunuhan suaminya, anggota Paminal Polda NTB yang tewas di Gili Trawangan pada 16 April 2025. Didampingi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Elma datang ke ruang sidang di Pengadilan Negeri (PN) Mataram pada Senin . Elma menjadi saksi dalam sidang dengan terdakwa I Made Yogi Purusa atau Kompol Yogi dan I Gde Aris Chandra atau Ipda Aris Chandra.Pada sidang dengan agenda pembuktian ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga orang saksi yaitu, Elma Agustina istri korban Brigadir Nurhadi, Sukarmidi mertua Nurhadi, dan Rafika Dewi kakak kandung Brigadir Nurhadi. Dalam keterangannya, Elma menceritakan bahwa pada hari kejadian, yaitu Rabu , Brigadir Nurhadi pulang ke rumah lebih awal sekitar pukul 10.00 Wita. Baca juga: Sidang Pembunuhan Brigadir Nurhadi, Jaksa Siapkan 9 Ahli, Termasuk Ahli Bela DiriSaat itu, menurut Elma, Brigadir Nurhadi berpamitan akan pergi ke Gili Trawangan bersama dua atasannya. "Almarhum meminta saya untuk mengemasi barang-barang, laptop dan lain-lainnya. Dia berpamitan untuk melakukan tugas ke Gili bersama dua atasannya," kata Elma di ruang sidang. Kedua atasan almarhum yang dimaksud adalah Ipda Aris Chandra dan Kompol I Made Yogi Purusa Utama yang bertugas di Paminal Polda NTB. Setelah mengemasi barang-barang, Nurhadi lalu berpamitan pada istri dan ayah mertuanya serta anaknya. Baca juga: Eksepsi Terdakwa Ditolak, Keluarga Almarhum Brigadir Nurhadi Merasa LegaPada sore harinya, sekitar jam 16.00 Wita, Elma melakukan video call dengan suaminya. Saat itu, Brigadir Nuhadi mengabarkan bahwa sudah sampai di hotel. "Dia saat itu sedang baring-baring di kamar sendiri, sempat saya tanyakan waktu itu sama siapa, dia bilangnya bertiga sama dua atasannya," ungkap Elma. Tangis Elma kemudian pecah saat menceritakan ketika anak sulungnya meminta menelepon ayahnya di hari kejadian, sekitar pukul 19.00 Wita. "Sempat anak saya yang paling besar, telepon ayahnya lagi, tiga kali teleponnya tapi tidak diangkat-angkat. Setelah itu, tidak ada komunikasi lagi," kata Elma tak kuasa menahan tangis. Baca juga: Dua Terdakwa Kasus Pembunuhan Brigadir Nurhadi Disoraki Keluarga Korban Usai SidangKeesokan harinya, pada Kamis, 17 April 2025, sekitar pukul 02.00 Wita dini hari, Elma mendapat kabar bahwa Brigadir Nurhadi mengalami kecelakaan. "Waktu itu, bapak saya tidak berani menyampaikan bahwa suami saya sudah tidak ada, karena kondisi saya saat itu sedang menyusui anak saya yang masih berusia 29 hari," ujar Elma. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-04 02:26