TVRI Resmi Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026 di Indonesia

2026-02-05 10:55:59
TVRI Resmi Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026 di Indonesia
- Tahun 2026 bakal  semarak bagi para pencinta sepak bola di seluruh dunia. Sebab, turnamen antarnegara paling bergengsi, Piala Dunia, akan kembali hadir pada tahun depan.Sebagai negara penggila si kulit bundar, Indonesia pun tak ingin ketinggalan menjadi saksi sejarah.Kendati Timnas Indonesia belum berhasil lolos ke putaran final, masyarakat Indonesia tetap bisa menyaksikan siaran langsung Piala Dunia 2026 dari rumah masing-masing.Pemerintah melalui Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) resmi menghadirkan siaran Piala Dunia 2026 melalui layar kaca secara free to air (FTA).Peresmian pemegang hak siar ini diumumkan oleh Direktur Utama LPP TVRI, Iman Brotoseno, didampingi Chief Editor Siaran Piala Dunia TVRI, Usman Kansong, melalui konferensi pers di Gedung GPO LPP TVRI, Jakarta, Senin ."Proses untuk memperoleh hak siar Piala Dunia 2026 oleh TVRI tentu tidak mudah dan melalui tahapan panjang. Seluruh persiapan tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen TVRI dalam menjalankan fungsi layanan publik," ujar Iman.Baca juga: Piala Afrika 2025: Tiga Negara Kunci Tempat di Babak 16 Besar"Masyarakat bisa mengakses siaran Piala Dunia melalui platform FTA atau teresterial dengan menggunakan antena biasa. Namun, untuk platform lain atau OTT (over the top) akan bergantung dengan kebijakan operator pihak ketiga," jelasnya.Nantinya, TVRI akan menyiarkan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 secara utuh baik live, delay, maupun re-run selama 39 hari mulai dari fase grup hingga final dengan total 104 pertandingan pada 11 Juni-19 Juli 2026.Piala Dunia 2026 akan ditayangkan secara FTA dan back to back (simultan) mulai pukul 23.00 WIB hingga 11.00 WIB.Penayangan ini diharapkan dapat menghadirkan tayangan berkualitas dunia yang inklusif, mudah diakses, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T)."Piala Dunia 2026 melalui TVRI dihadirkan untuk seluruh rakyat Indonesia dengan akses yang inklusif," tutur Iman.Baca juga: Resmi Jadi Direktur Teknik Ajax, Bagaimana Nasib Jordi Cruyff di PSSI?Menyoal kegiatan nonton bersama (nobar) yang nantinya berpotensi digelar di berbagai daerah, Iman menjamin bahwa kegiatan tersebut bisa dilakukan tanpa dipungut biaya dan akan memberikan ruang seluas-luasnya bagi para pihak yang ingin menggelar nobar yang tak memiliki aspek komersial."Kami memberikan ruang seluas-luasnya kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan pihak-pihak yang berkenan menyelenggarakan nobar di wilayah masing-masing. Izin akan datang ke kami tapi kami tak akan memungut biaya untuk nobar," ucap Iman."Tetapi untuk nobar yang dilakukan hotel atau restoran akan memiliki ketentuan dan persyaratan karena itu ada aspek komersial," jelasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-05 08:33