Ummu Vio, Perjuangan Ibu "Mengendarai Cinta" di Atas Honda Beat Tua

2026-01-12 04:52:57
Ummu Vio, Perjuangan Ibu
SURABAYA, - Sore di Wiyung, Surabaya, hujan baru saja reda. Genangan air kecil memantulkan lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala, seolah-olah kota ini sedang menahan napas sebelum malam tiba.Di antara deru mesin dan klakson, sebuah Honda Beat tua melaju pelan. Pengendaranya seorang ibu berkerudung gelap dengan rompi merah khas driver ACI (Aku Cinta Indonesia).Ketika turun dari motor, langkahnya pincang. Mata kakinya bengkak, tapi wajahnya tetap tenang. Dia Ambarwati (53), yang lebih akrab dipanggil Ummu Vio.Setiap hari hidupnya dimulai sebelum fajar. Shalat subuh, menyiapkan kebutuhan rumah, lalu mengantar dua anak yatim ke sekolah—gratis, karena itu bagian dari misi ACI.Baru setelah itu ia “on bid”, menyalakan aplikasi, dan menjemput orderan pertama.Baca juga: Kisah Saleha, Ibu Petani Inspiratif Jual Sawah Antarkan Anak Jadi TNI“Pulangnya nggak tentu. Kadang maghrib, kadang jam delapan, kadang jam sepuluh, bahkan jam sebelas malam,” kata dia pelan, saat ditemui pada Senin .  Di waktu-waktu menunggu order, ia merangkai bros. Kadang ada pesanan khusus dari pelanggan, kadang ia titipkan hasil karyanya di kantor Dinas.Tangan yang sama yang memegang stang motor, memilah manik-manik warna-warni—seperti sedang merajut harapan kecil di sela-sela kerasnya jalanan./ Adinda Trisaeni Nur Sabrina Ambarwati (53), yang lebih akrab dipanggil Ummu VioMata Ummu Vio tiba-tiba berkaca-kaca saat bicara soal anak semata wayangnya yang kini duduk di semester tujuh Program Studi Bahasa Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.“Semester tujuh harus sudah mulai skripsi, biar nggak bayar UKT lagi di semester delapan. UKT-nya… cembung,” ujarnya sambil tertawa kecil.“Lima juta delapan ratus sekian,” sambung dia menyebut besaran UKT yang menjadi tanggung jawabnya.Dulu, sebelum Pandemi Covid-19 datang dan merenggut kesehatan suaminya, Ummu Vio adalah ibu rumah tangga tulen.Baca juga: Sosok Juliati Harimu, Ibu Pengolah Sagu Jadi Obat demi Kesembuhan AnaknyaIa punya usaha kecil di rumah, berjualan sembako, alat tulis, jajanan, kosmetik, bahkan pernah jadi agen Tupperware selama enam tahun.Modal pertama cuma satu juta rupiah, tapi cukup untuk menabung dan membiayai sang anak mondok di eLKISI—sekolah terbaik yang ia perjuangkan.Lalu stroke datang. Suaminya tak lagi bisa bekerja lagi. Peran tulang punggung keluarga jatuh ke pundaknya.


(prf/ega)