Jepang Cabut Peringatan Gempa Super Besar Setelah Berlaku Sepekan

2026-02-05 04:24:55
Jepang Cabut Peringatan Gempa Super Besar Setelah Berlaku Sepekan
TOKYO, - Jepang mencabut peringatan gempa super besar atau megaquake pada Selasa setelah berlaku selama seminggu.Pejabat Badan Meteorologi Jepang (JMA), Issei Suganuma mengatakan, masa peringatan khusus bagi warga telah berakhir pada tengah malam."Namun, bukan berarti gempa tidak akan terjadi lagi, jadi kami ingin warga tetap waspada," kata Suganuma, dikutip dari AFP, Selasa.Baca juga: 2 Kali Seminggu, Jepang Kembali Diguncang Gempa Berpotensi TsunamiJMA menyatakan, masih ada risiko tinggi terjadinya gempa super besar di lepas pantai utara.Akan tetapi, risiko tersebut akan menurun seiring berjalannya waktu.Menurut pedoman pencegahan bencana Jepang yang dikeluarkan pada Maret, gempa dahsyat di lepas pantai wilayah Hokkaido-Sanriku dapat menyebabkan tsunami hingga 30 meter dan menewaskan sebanyak 199.000 orang.Pedoman tersebut juga menyebutkan bahwa bencana itu dapat menghancurkan hingga 220.000 rumah dan bangunan.Selain itu, kerugian ekonomi akibat gempa diperkirakan mencapai 31 triliun yen atau sekitar Rp 3,3 kuadriliun. Baca juga: Akankah Gempa Super Besar Sekali dalam Seabad Segera Mengguncang Jepang?Diketahui, peringatan megaquake itu dikeluarkan setelah gempa berkekuatan M 7,5 melanda lepas pantai utara Jepang pada Senin .Gempa 8 Desember itu sempat memicu gelombang tsunami setinggi 70 sentimeter dan melukai lebih dari 40 orang.Meski demikian, Badan Meteorologi Jepang (JMA) dan Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana (FDMA) memastikan tak ada kerusakan berarti dalam gempa itu.Menyusul gempa susulan tersebut, pejabat JMA mengeluarkan peringatan tentang adanya peningkatan risiko gempa super besar atau megaquake.Gempa itu didefinisikan sebagai gempa bermagnitude 8,0 atau lebih besar yang berpotensi mengguncang bagian utara Jepang.Para ilmuwan mengatakan, setelah gempa M 7,0 atau lebih besar, ada kemungkinan satu persen terjadinya gempa megaquake dalam waktu tujuh hari.Peringatan gempa itu juga mendesak masyarakat untuk menyiapkan tas darurat jika mereka perlu mengungsi dengan cepat.Baca juga: Usai Diguncang Gempa M 7,5, Jepang Keluarkan Peringatan Megaquake


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-05 04:20