Sari Yuliati Raih detikcom Awards 2025 'Legislator Pengawal Penegakan Hukum'

2026-01-31 06:24:23
Sari Yuliati Raih detikcom Awards 2025 'Legislator Pengawal Penegakan Hukum'
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Sari Yuliati meraih penghargaan detikcom Awards 2025. Sari menerima penghargaan sebagai Legislator Pengawal Penegakan Hukum.Penghargaan detikcom Awards 2025 digelar di The Westin Jakarta, Selasa (25/11/2025). Sari aktif mengawasi penegakan hukum di berbagai daerah, termasuk kasus korupsi, narkoba, sumber daya alam, dan perdagangan orang, dengan berkoordinasi bersama Polda dan Kejaksaan Tinggi. Saat kunjungan ke Riau, Sari meminta kelengkapan laporan atas dugaan penyimpangan agar penanganan kasus dapat ditindaklanjuti secara tuntas.Sari merupakan Ketua Tim Kunjungan Kerja Serap Masukan RUU KUHAP. Sari menekankan pentingnya menyerap aspirasi masyarakat serta pandangan aparat penegak hukum untuk memperkaya pembahasan di DPR.Selain itu, Sari terus mendorong optimalisasi pelayanan pengaduan masyarakat. Di mana, 469 laporan telah diteruskan kepada mitra kerja dan ditindaklanjuti melalui mekanisme rapat resmi.detikcom Awards 2025 kembali digelar untuk memberikan apresiasi bagi yang berkontribusi nyata untuk Indonesia. Tahun ini, ajang penghargaan mengusung tema 'Apresiasi Karya Insan Nusantara, Merajut Indonesia Gemilang'.Penghargaan ini ditujukan bagi individu, pelaku usaha, dan unsur pemerintah yang telah menorehkan prestasi serta memberi dampak signifikan bagi bangsa.Awards ini menyoroti karya, tata kelola, dan pencapaian unggul di berbagai bidang. Ajang ini menjadi salah satu cara detikcom untuk menjaga semangat berkarya, berdedikasi, dan bertransformasi dalam 'rumah besar' Indonesia.Berikut nomenklatur penghargaan yang diberikan:- Anugerah Inovasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan- Anugerah Ekonomi Kerakyatan- Anugerah Inklusi Keuangan dan Pembangunan Ekonomi Berbasis Digital- Anugerah Kontribusi Sosial, Budaya, & Perlindungan Masyarakat- Anugerah Lingkungan, Energi, & Ketahanan Pangan- Anugerah Pembangunan Politik, Hukum, & Demokrasi- Anugerah Pertumbuhan Ekonomi & Ekosistem Digital- Anugerah Kontribusi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat- Anugerah Lingkungan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan- Anugerah Inovasi Bisnis, Teknologi, dan Layanan Konsumen.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-31 06:14