Pertambangan Jadi Backbone Indonesia Emas 2045, Ini Tantangan Eksplorasi, Teknologi, hingga Persepsi

2026-01-11 03:39:33
Pertambangan Jadi Backbone Indonesia Emas 2045, Ini Tantangan Eksplorasi, Teknologi, hingga Persepsi
JAKARTA, – Indonesia memasuki fase penting menuju visi Indonesia Emas 2045. Di balik ambisi besar itu, sektor pertambangan disebut menjadi “tulang punggung masa depan” yang menopang transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi global.Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, mengatakan bahwa komoditas mineral, baik emas, perak, nikel, hingga tembaga, akan menjadi fondasi strategis Indonesia dalam 100 tahun sejak kemerdekaan, atau 2045. Namun, ia mengingatkan bahwa meski Indonesia memiliki banyak mineral kritis, jumlahnya tidak bisa disebut melimpah.Pengelolaan harus dilakukan secara bijak, tepat, dan berkelanjutan agar cadangan tetap terjaga.“Kita memiliki banyak mineral kritis, tetapi tetap terbatas. Eksplorasi yang tepat dan bijak menjadi kunci untuk memastikan umur cadangannya panjang,” ujar Hendra, di kantor Kompas.com, sebagai tamu podcast Naratama bersama Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, Rabu lalu.Baca juga: Risiko Besar, Bos SKK Migas Sebut Pebankan Nasional Ogah Biayai Eksplorasi MigasMenurut Hendra, banyak wilayah tambang di Indonesia yang selama ini hanya mengandalkan deposit berkadar tinggi (high grade). Tanpa eksplorasi aktif, umur cadangan akan cepat menurun.Eksplorasi menjadi kewajiban pemegang izin tambang dan menjadi salah satu indikator ketika mereka mengajukan rencana kerja serta anggaran tahunan.Namun, eksplorasi juga terbuka bagi investor baru, khususnya yang fokus pada sektor hulu atau “junior mining companies”.Di tengah tren global, Hendra menekankan bahwa tembaga adalah komoditas paling strategis dan paling berpotensi mengalami kelangkaan global.“Tembaga akan mengalami shortage pada 2035. Mengembangkan tambang tembaga butuh belasan tahun, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Momennya harus sekarang.”Baca juga: Eksplorasi, Kunci Indonesia Masuk Rantai Pasok Logam Tanah JarangHendra mengakui adanya masalah struktural dalam industri tambang Indonesia: minimnya pendanaan untuk research & development (R&D).Secara nasional, alokasi R&D Indonesia berada pada level terendah di kawasan Asia.Di pertambangan, lemahnya investasi teknologi membuat Indonesia harus bergantung pada teknologi dari luar negeri, contohnya pada pengolahan nikel.“Kalau tidak ada Tiongkok, kita tidak bisa memproses nikel sampai teroperasi. Ini menunjukkan teknologi hilir kita masih tertinggal.”Baca juga: ESDM: PLTU Batu Bara Bukan Barang HaramIa menyoroti contoh menarik dari sektor batu bara. Dulu, pemegang PKP2B dikenai royalti 13,5 persen, dengan 6,5 persen dirancang khusus untuk dana pengembangan batu bara, termasuk teknologi bersih. Namun, dalam praktiknya dana tersebut masuk ke kas negara untuk kebutuhan operasional.“Kalau saja skema itu konsisten, seharusnya kita sudah punya teknologi batu bara bersih. Tapi kenyataannya tidak terjadi.”Hendra menyebut bahwa kebijakan fiskal yang konsisten sangat diperlukan untuk memperkuat pengembangan teknologi pertambangan dalam negeri.Baca juga: Raksasa Migas Dunia Berebut Eksplorasi di Indonesia, Apa Sebabnya?


(prf/ega)