JAKARTA, – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keuangan, banyak keluarga di Indonesia masih belum siap memastikan kekayaan mereka bertahan hingga ke generasi berikutnya.Studi terbaru di Asia memperlihatkan hanya 19 persen responden yang merasa benar-benar siap dengan pengaturan warisan mereka, meski 7 dari 10 menempatkan keamanan finansial keluarga sebagai prioritas utama.Dalam survei bertajuk "Passing the Torch: Building Lasting Legacies in Asia" yang dilakukan di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, ditemukan bahwa 60 persen responden khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan melewati generasi anak-anak mereka. Kekhawatiran ini terutama datang dari kelompok berpenghasilan tinggi, dengan 28 persen menyebut diri “sangat khawatir”.“Banyak keluarga kini memandang warisan bukan hanya soal harta benda, tapi juga rasa aman, pendidikan, dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi generasi berikutnya,” kata Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa .Baca juga: Persiapkan Warisan Sejak Dini, Begini Cara Lindungi Aset Keluarga Survei yang melibatkan lebih dari 3.000 responden di Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap konsep warisan.Sebanyak 59 persen responden ingin agar harta yang mereka tinggalkan diinvestasikan untuk menciptakan pertumbuhan jangka panjang, seperti melalui asuransi jiwa, aset finansial, atau bisnis keluarga.Sementara itu, 56 persen berharap warisan digunakan untuk membiayai pendidikan hingga jenjang universitas atau pelatihan kejuruan.Meski begitu, hanya 31 persen yang percaya anak-anak mereka akan menjaga dan melanjutkan nilai-nilai keluarga yang diwariskan.“Warisan kini lebih luas maknanya. Banyak orang tua ingin meninggalkan dampak berkelanjutan, melalui pendidikan, kesehatan, dan nilai hidup,” ujar Maika.Baca juga: Warisan, Pajak, dan Keadilan yang DipertaruhkanMeski kesadaran terhadap pentingnya perencanaan warisan meningkat, sebagian besar keluarga belum memiliki rencana yang terstruktur.Hanya 10 persen responden yang sudah menyiapkan dan mengomunikasikan rencana warisan mereka secara lengkap, sedangkan 45 persen baru memiliki sebagian rencana, dan 31 persen belum menyiapkan sama sekali.“Banyak keluarga sudah mulai membicarakan soal warisan, tapi belum membuat rencana konkret. Diskusi terbuka penting agar harta dan nilai yang dimiliki bisa diteruskan dengan jelas dan berkelanjutan,” ujar Maika.Baca juga: Tanah dan Bangunan Warisan Tak Kena Pajak tapi BPHTB, Simak KetentuannyaSelain harta, literasi finansial kini dianggap sebagai bentuk warisan yang tak kalah penting. Lebih dari separuh responden (54 persen) mengaku telah atau berencana membagikan pengalaman finansial pribadi mereka kepada anak-anak.Kebutuhan akan pendampingan profesional juga meningkat. Sebanyak 37 persen responden telah menggunakan jasa penasihat keuangan, dan 42 persen berencana melakukannya dalam waktu dekat.“Banyak keluarga ingin mewariskan bukan hanya aset, tapi juga kemampuan mengelola keuangan dengan bijak. Pengetahuan ini menjadi pondasi penting agar kesejahteraan keluarga dapat bertahan lintas generasi,” kata Maika.
(prf/ega)
Menyiapkan Warisan Finansial agar Tak Habis di Generasi Anak
2026-01-11 23:19:03
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:32
| 2026-01-11 22:53
| 2026-01-11 21:43
| 2026-01-11 21:34










































