BRIN Kirim Drone ke Titik Bencana Sumatera, Bisa Deteksi Jasad di Bawah Tanah

2026-01-17 00:17:20
BRIN Kirim Drone ke Titik Bencana Sumatera, Bisa Deteksi Jasad di Bawah Tanah
Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan berbagai teknologi guna mendukung proses penanganan pascabencana banjir dan longsor di Sumatera. BRIN mengirimkan drone yang bisa mendeteksi jenazah di bawah permukaan tanah."Jadi sekarang kita akan fokus pada rekonstruksi termasuk mengirimkan drone-drone alat-alat yang bisa menjangkau sampai 100 km," kata Kepala BRIN Arif Satria di kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025)."Kemudian juga drone ground penetration radar yang bisa mendeteksi benda 100 meter di bawah permukaan tanah yang bisa mendeteksi, artinya korban jenazah dan lain sebagainya," sambungnya.Arif menyampaikan, sejak awal bencana, pihaknya mendapat tugas untuk menyediakan data citra satelit. Citra satelit itu kemudian didistribusikan ke BNPB dan lembaga-lembaga berwenang lainnya, seperti BMKG dan Badan Informasi Geospasial (BIG).Sementara di tahap rekonstruksi pascabencana, BRIN lebih berfokus menganalisis data satelit dari control room. Arif menyebutkan BRIN juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan mengenai kebutuhan data citra satelit yang sangat penting untuk pemulihan ke depan. Arif juga menerangkan BRIN telah mengirim air siap minum dan mengolah air bersih di lokasi bencana. Dia berharap hal ini dapat mendukung proses pemulihan banjir."Alhamdulillah kami sudah mengirimkan air minum, air siap minum yang itu bisa mengolah air banjir, air lumpur untuk menjadi air siap minum untuk per hari 10 ribu liter dan sekarang sedang kita siapkan lagi untuk yang 20 ribu liter. Kemudian, siap untuk mengolah air bersih sampai 100 ribu liter. Semoga ini sangat bermanfaat untuk pemulihan banjir," imbuhnya.Lihat Video 'BNPB Update Korban Bencana Sumatera: 1.059 Meninggal, 192 Hilang':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 23:36