Tak Kembalikan Anggaran ke Purbaya, Menteri PU Optimistis Serapan 96 Persen

2026-01-14 12:32:45
Tak Kembalikan Anggaran ke Purbaya, Menteri PU Optimistis Serapan 96 Persen
JAKARTA, - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengaku belum mengembalikan anggaran Kementerian PU yang belum terserap hingga saat ini kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.Sebab, dirinya mengaku masih percaya diri dapat menyerap anggaran sesuai target prognosis hingga 96 persen."Insya Allah sampai detik ini belum ada yang dikembalikan. Dan kita masih pede penyerapan di atas 96 persen, Insya Allah masih bisa lah," kata Dody dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis .Baca juga: Serapan Anggaran Kementerian PU 59,06 Persen, Masih di Bawah TargetSejauh ini, progres serapan pagu efektif Kementerian PU per 18 Desember 2025 pukul 12.00 WIB telah mencapai Rp 111,73 triliun dengan progres fisik 78,94 persen dan dan keuangan 76,11 persen."Jadi, kami masih optimis, teman-teman Direktorat Jenderal ini masih optimis untuk bisa menyerap sesuai target prognosis 96 persen," sambung Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian PU Wida Nurfaida menambahkan.Sebelumnya, Purbaya mengungkapkan, sejumlah Kementerian/Lembaga (K/L) telah mengembalikan anggaran sekitar Rp 4,5 triliun ke kas negara.Ini terjadi lantaran sejumlah K/L tak mampu menyerap anggaran hingga tutup buku tahun 2025.Purbaya pun memperdiksi akan banyak anggaran lagi yang dikembalikan kepada dirinya sebagai bendahara negara tersebut."Masih ada yang mengembalikan anggaran ke kami, ada beberapa yang memang enggak bisa belanja. Sebelumnya, Rp 3,5 triliun, ada lagi yang dibalikin, sudah naik Rp 4,5 triliun," tandas dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 11:22