Banjir dan Tanah Longsor Sumatra, PP Muhammadiyah Soroti Kegiatan Ekstraktif di Hutan

2026-01-12 07:06:45
Banjir dan Tanah Longsor Sumatra, PP Muhammadiyah Soroti Kegiatan Ekstraktif di Hutan
MAGELANG, – Banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.Ketua Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Hikmah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menilai bencana hidrometeorologi ini berhubungan dengan kegiatan ekstraktif yang merusak hutan.“Ekstraktivisme itu bagian dari kebijakan-kebijakan pemerintah di sektor tambang yang semakin tidak adil,” ucap Busyro saat ditemui di SMK Muhammadiyah Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu .Baca juga: Korban Banjir Bandang Agam Sumatera Barat Tembus 87 Orang, Pencarian Masih BerlanjutMenurut Busyro, banjir bandang dan tanah longsor tidak lepas dari peraturan sektor kehutanan yang tidak transparan dan tidak berpihak kepada rakyat.“Sehingga, lebih banyak hutan diberikan izin-izin tambang kepada sedikit orang,” cetus mantan Ketua KPK itu.Ia menilai pemerintah lamban menangani bencana.Berkaca dari hal tersebut, PP Muhammadiyah meminta Presiden Prabowo Subianto menetapkan banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra bagian utara sebagai bencana darurat nasional.“Segera terbitkan keputusan dari Presiden. Apapun, perpes, keppres, kalau perlu, perppu,” ujarnya.Selain itu, Busyro menekankan perlunya revisi terhadap peraturan-peraturan terkait kehutanan dan agraria.Bencana hidrometeorologi di Sumatra bagian utara semakin masif setelah hujan dengan intensitas tinggi sejak 24 November 2025.Curah hujan mencapai 150–330 mm per jam, jauh melebihi curah hujan normal 5–10 mm.Menurut BMKG, hujan lebat yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor disebabkan oleh siklon Senyar.Bencana tersebut menimbulkan dampak luas, termasuk bangunan roboh, jalan dan jembatan putus, listrik padam, serta jaringan internet terputus.BNPB mencatat hingga 29 November 2025, sebanyak 303 orang meninggal dan 279 orang hilang.Bencana juga mengakibatkan satu ekor gajah mati yang terbenam di tumpukan kayu dan lumpur di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Aceh.


(prf/ega)