Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG

2026-01-17 02:08:37
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
- Pasar pendanaan berkelanjutan (ESG) di Asia Tenggara disebut mengalami lonjakan pertumbuhan pada kuartal ketiga 2025. Hal itu dinilai memberi sinyal pemulihan kepercayaan pada pendanaan keberlanjutan di wilayah tersebut.Hasil dari obligasi ESG naik 73,1 persen menjadi 9,1 miliar dollar Amerika Serikat (AS), dari yang sebelumnya hanya 5,3 miliar dollar AS tahun 2024, menurut data LSEG.Baca juga:Penerbitan pinjaman ESG juga mengalami peningkatan, tepatnya meningkat 33,3 persen menjadi 14,8 miliar dollar AS dari 11,1 miliar dollar AS pada periode yang sama.Menurut para analis, lonjakan ini mencerminkan kembalinya penerbit obligasi untuk melanjutkan rencana pendanaan mereka yang sebelumnya ditunda akibat ketidakpastian dan tantangan ekonomi makro yang kompleks.Dilansir dari Know ESG, Senin , Sustainability Chief OCBC, Jeong Yoonmee mencatat bahwa para penerbit mengambil pendekatan "wait and see" pada paruh pertama tahun ini, tapi kemudian melanjutkan aktivitas seiring dengan membaiknya kejelasan.Ia menambahkan, momentum seputar transisi energi di wilayah ini tetap kuat, meskipun ambisi iklim global sedang goyah.Baca juga: DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah MakananPenerbitan obligasi di seluruh dunia turun 3,8 persen menjadi 198,2 miliar dollar AS pada Triwulan III 2025, sedangkan wilayah Asia-Pasifik, kecuali Jepang, mengalami kenaikan moderat sebesar 5,5 persen.Kepala solusi berkelanjutan ING untuk Asia-Pasifik, Martijn Hoogerwerf mengatakan, fluktuasi dari kuartal ke kuartal merupakan hal yang umum karena jadwal penerbit.Max Thomas dari HSBC menambahkan, banyak penerbit menunda rencana mereka hingga Triwulan III menyusul volatilitas yang didorong oleh tarif pada Triwulan II.Pada bulan Oktober, total penerbitan obligasi ESG telah mencapai level tahun 2024, didukung oleh kebutuhan pra-pendanaan penerbit untuk tahun 2026.Singapura adalah pemimpin yang jelas dalam pendanaan ESG di Asia. Pertumbuhan ini didukung oleh tren yang lebih luas di Asia yaitu kesediaan untuk menerbitkan obligasi ESG menggunakan mata uang lokal, langkah yang penting untuk mematangkan dan menstabilkan pasar tersebut.Para pengamat memperkirakan lebih banyak aktivitas pada tahun 2026, terutama dari penerbit yang memiliki kerangka kerja pendanaan berkelanjutan yang sudah mapan.Baca juga: Survei Morgan Stanley: 80 Persen Investor Siap Tambah Alokasi Investasi Berkelanjutan


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Perubahan Anggaran Dasar dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (UU BUMN). Salah satu implikasi penting dari penyesuaian tersebut adalah perubahan nama perseroan, dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.Sementara itu, pelimpahan kewenangan persetujuan RKAP 2026 dan RJPP 2026-2030 kepada Dewan Komisaris dijalankan dengan tetap mengedepankan mitigasi risiko serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan seluruh keputusan RUPSLB merupakan bagian dari konsolidasi tata kelola perseroan agar semakin adaptif terhadap regulasi dan tantangan bisnis ke depan.Baca juga: Dana Rp 2,5 Miliar Digelontorkan, PGN Percepat Bantuan Banjir Aceh–Sumut“Penyesuaian yang disetujui pemegang saham bertujuan memastikan keselarasan anggaran dasar Perseroan dengan ketentuan regulasi yang berlaku, sekaligus memperkuat kejelasan peran, mekanisme pengambilan keputusan, dan akuntabilitas pengelolaan perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Fajriyah.PGN menilai, langkah strategis yang diputuskan dalam RUPSLB ini mencerminkan komitmen kuat perusahaan dalam menjaga kepastian regulasi, memperkokoh struktur tata kelola, serta memastikan keberlanjutan kinerja jangka panjang. Upaya tersebut sejalan dengan mandat PGN sebagai subholding gas di bawah PT Pertamina (Persero), khususnya dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional.

| 2026-01-17 00:59