Seskab Teddy Ungkap Progres Pemulihan di Sumatera Satu Bulan PascaBencana: Semua Kerja Keras Siang-Malam

2026-01-30 08:04:59
Seskab Teddy Ungkap Progres Pemulihan di Sumatera Satu Bulan PascaBencana: Semua Kerja Keras Siang-Malam
Jakarta - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan perkembangan penanganan dan pemulihan satu bulan pascabencana di Sumatera.Dia menuturkan pemerintah, TNI-Polri, relawan, serta masyarakat bekerja keras siang dan malam untuk memulihkan daerah-daerah terdampak bencana.Awalny, Seskab Teddy menanggapi soal pihak-pihak yang membandingkan penanganan bencana di Sumatra dengan bencana-bencana sebelummya. Teddy menekankan,setiap bencana memiliki tantangan yang berbeda.Advertisement"Ada beberapa pihak sedikit pihak yang masih membandingkan bencana sekarang dengan bencana-bencana sebelumnya. Jadi saya mau sampaikan begini, setiap bencana punya tantangan sendiri, punya penanganan sendiri," ujar Teddy dalam konferensi pers perkembangan penanganan bencana Sumatra di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta, Senin .Namun, dia memastikan bahwa setiap pemerintah menginginkan yang terbaik dan tercepat dalam pemulihan pascabencana. Teddy menyebut pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun terus mempercepat pemulihan pascabencana."Sekarang ini kita sudah masuk dalam satu bulan pascabencana, satu bulan pertama dan Alhamdulillah pemerintah kita semua disini, termasuk rekan-rekan pers dan semua yang ada disana, dalam satu bulan ini kita ada hasil konkret," terang dia.Teddy memaparkan, 78 jalan nasional di 52 kabupaten/kota wilayah Sumatera putus akibat bencana banjir dan longsor. Dalam waktu satu bulan, pemerintah sudah menyelesaikan perbaikan 72 jalan nasional yang rusak atau putus."Bencana ada di 3 provinsi, terdampak ada di 52 kabupaten, 78 jalan nasional putus. Per satu bulan dari 78, tinggal 6 yang masih proses penyambungan, 4 titik di Aceh dan di Sumatera Barat, dan Sumatera Utara," ucap dia. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-30 07:22