Bos PLN Ungkap 3 Daerah Aceh Ini Pemulihan Listriknya Masih Rendah

2026-02-06 11:30:21
Bos PLN Ungkap 3 Daerah Aceh Ini Pemulihan Listriknya Masih Rendah
JAKARTA, - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan ada tiga daerah di Aceh yang pemulihan sistem kelistrikannya masih rendah usai terdampak bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025 lalu. Ketiganya yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Tingkat pemulihan yang rendah di tiga daerah ini disebabkan terbatasnya akses pengiriman material untuk perbaikan fasilitas kelistrikan. "Daerah-daerah yang memang aksesnya masih terbuka, pemulihan sistem kelistrikan bisa berjalan dengan cepat, sedangkan daerah-daerah yang masih terisolasi, pemulihannya agak sedikit lebih lambat dan terkendala," ujar Darmawan dalam rapat koordinasi dengan Satgas Pemulihan Pascabencana, yang ditayangkan dalam YouTube DPR RI, Selasa .Baca juga: Bos PLN: Kerusakan Sistem Listrik Dampak Banjir-Longsor Aceh Lebih Masif dari Tsunami 2004/ Bambang P. Jatmiko Ilustrasi gardu PLNSecara rinci, pada Aceh Tengah, 70,8 persen desa sudah mendapatkan aliran listrik, lalu Bener Meriah tercatat 83,6 persen desa telah berlistrik, sementara Gayo Lues baru mencapai sekitar 69,9 persen. Darmawan menuturkan, untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah, evakuasi material kelistrikan sedang dilakukan melalui jalur udara.Sementara di Gayo Lues, jalur darat mulai terbuka sehingga pengiriman tiang listrik dapat dilakukan meski masih terkendala longsor. "Gayo Lues ini ada berita yang cukup mengembirakan, jalur (darat) sudah mulai terbuka, sehingga 210 tiang listrik kami sedang dalam perjalanan. Sedangkan untuk Aceh Tengah dengan Bener Meriah, evakuasi 510 tiang listrik kami masih menggunakan (pesawat) Hercules," ungkapnya.Baca juga: PLN: Utang Terang, Listrik Redup Menurut Darmawan, dampak kerusakan infrastruktur kelistrikan akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh kali ini jauh lebih masif dibandingkan bencana tsunami pada 2004. DOKUMENTASI PLN Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (ketiga dari kanan) didampingi Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan, Suroso Isnandar (kanan) dan General Manager PLN UIP Sumbagut, Dewanto (kedua dari kanan) meninjau langsung salah satu titik lokasi perbaikan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Langsa?Pangkalan Brandan.Ia bilang, saat bencana tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan di Aceh hanya terjadi di delapan titik. Sementara pada bencana banjir dan longsor tahun ini, jumlah titik kerusakan meningkat tajam hingga mencapai 442 titik.Kondisi tersebut membuat proses perbaikan listrik di Aceh kali ini lebih menantang dan membutuhkan waktu lebih lama. "Untuk bencana kali ini dibanding dengan tsunami 2004, itu sangat berbeda. Pada saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan ada di 8 titik, sedangkan bencana kali ini ada 442 titik. Jadi skalanya sangat berbeda, kali ini sangat masif," jelas dia.Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69.000 Personel Amankan Listrik Nataru 2025/2026 Secara keseluruhan, dari total 23 kabupaten dan kota di Aceh, PLN mencatat saat ini 15 daerah telah pulih 100 persen dari sisi desa yang kembali mendapatkan aliran listrik, namun 8 kabupaten lainnya masih dalam proses pemulihan. Darmawan menyebut, tantangan pemulihan jaringan listrik turut dipengaruhi kondisi rumah pelanggan. Di sejumlah daerah seperti Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bireuen, dan Aceh Timur, sebagian besar desa telah berlistrik, namun masih banyak rumah warga yang rumahnya belum diperbaiki. Ia menyebut, di Aceh Utara 850 desa sudah pulih sistem listriknya, hanya 2 desa yang masih padam. Namun, sebanyak 80.000 warga mengalami kerusakan rumah, dengan 13.000 kondisi berat dan 20.000 kondisi ringan. Pada Aceh Tamiang, 209 desa sudah mendapat aliran listrik dan hanya 7 desa yang masih padam. Kendati begitu, jumlah rumah pelanggan yang rusak akibat bencana mencapai lebih dari 38.000 di wilayah tersebut.Baca juga: PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, 20 Gardu Induk Kembali Beroperasi Lalu di Bireuen, 607 desa sudah menyala sistem kelistrikannya, sedangkan yang padam tinggal 2 desa. Tetapi jumlah rumah pelanggan terdampaknya mencapai lebih dari 31.000. Serta pada Aceh Timur, sebanyak 491 desa sudah tersalurkan listrik, sementara 22 desa masih berproses. Meski begitu, jumlah rumah yang terdampak bencana mencapai lebih dari 11.000. "Jadi ada daerah-daerah yang pemulihan listriknya sangat tinggi. Namun, meskipun sistem kelistrikan hampir pulih, jumlah rumah pelanggan yang terdampak masih sangat tinggi," ucap Darmawan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-02-06 10:48