Ribuan Pengunjung Nikmati Momen Memberi Makan Satwa di Kebun Binatang Surabaya

2026-02-08 11:23:51
Ribuan Pengunjung Nikmati Momen Memberi Makan Satwa di Kebun Binatang Surabaya
SURABAYA, - Memasuki libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru), suasana Kebun Binatang Surabaya (KBS) lebih ramai dibanding hari biasanya.Pengunjung dari berbagai daerah datang ke Kebun Binatang Surabaya bersama keluarga dari berbagai kalangan usia mulai dari anak-anak sampai orang tua.Sebagian pengunjung sudah datang sejak pagi hari. Tapi, saat siang juga tak kalah ramai. Mereka menikmati sejumlah wahana yang ditawarkan KBS di momen Nataru.Baca juga: Bus Trans Jatim Koridor Malang Diserbu Wisatawan Libur NataruPengunjung berfoto-foto, mengabadikan momen di spot-spot bersama satwa andalan. Dan, memberi makan satwa atau feeding time untuk buaya, gajah, jerapah, komodo, rusa sampai singa.“Natal tahun ini luar biasa dibanding tahun sebelumnya. Per hari ini, sampai pukul 12.00 WIB, jumlah pengunjung di KBS sudah mencapai 15.000 orang,” kata Humas KBS, Lintang Ratri Sunarwidhi kepada Kompas.com, Kamis .Baca juga: Pasukan Oren Cianjur Siaga Satu, Sampah Melonjak di Momen NataruLintang mengatakan, lonjakan pengunjung di KBS terlihat sejak akhir pekan lalu. Puncaknya, diprediksi pada Minggu dengan target 50.000 pengunjung per hari.Ia berharap, di momen Nataru 2025, KBS bisa mencapai target 200.000 pengunjung dengan didukung wahana-wahana baru, salah satunya feeding time singa.“Jadi bagi para pengunjung yang mau face to face dengan singa silakan ke KBS dengan feeding time,” ucap Lintang.Untuk menikmati wahana feeding time singa, pengunjung bisa merogoh gocek sebesar Rp 50.000 satu paket keluarga. Daging segar siap disantap singa mulai jam 09.00 hingga 10.00 WIB.Selain itu, KBS juga meramaikan libur Nataru dengan wahana Komogo. Maskot KBS Uncle Komo akan mengajak pengunjung pawai bersama satwa berkeliling ke area wisata.“Komogo nanti diarahkan dengan pawai satwa di sekitaran sini, hewannya ada ular, burung, unta, dan sebagainya,” terangnya.Salah satu pengunjung asal Perak, Surabaya, Tyas (32) berlibur di KBS bersama suami dan anaknya di hari Natal karena dekat dengan rumah.“KBS juga kan harganya terjangkau, kalau punya anak kecil ini lebih efisien dan kebetulan kami juga sering ke sini,” ujarnya.Selain melihat-lihat satwa, Tyas menikmati wahana naik perahu dan kids zoo untuk anaknya saat mengunjungi di KBS.“Suasananya ramai dibanding biasanya. Kebetulan udah pernah beberapa wahana jadi tadi perahu, jadi cuma keliling, kids zoo,” pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-08 10:33