Ekonom INDEF Peringatkan Risiko Inflasi dan Rent Seeker di Balik Redenominasi Rupiah

2026-01-12 13:41:59
Ekonom INDEF Peringatkan Risiko Inflasi dan Rent Seeker di Balik Redenominasi Rupiah
JAKARTA, -Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad memperingatkan potensi munculnya rent seeker atau pihak yang mencari keuntungan pribadi dalam pelaksanaan kebijakan redenominasi rupiah.Tauhid menjelaskan, redenominasi merupakan kebijakan penyederhanaan nilai mata uang dengan menghapus angka nol di belakang nominal tanpa mengubah nilai riilnya di masyarakat.Namun, ia menilai kebijakan ini berisiko menimbulkan inflasi jangka pendek dan praktik manipulatif oleh oknum tertentu.“Risikonya selain inflasi (yang) pasti terjadi ya karena kan rupiah redenominasi orang pada naikin harga,” kata Tauhid saat dihubungi Kompas.com, Minggu . Baca juga: DPR Ingatkan Redenominasi Rupiah Perlu Persiapan Besar-besaranMenurutnya, lonjakan harga pasca-redenominasi bukan disebabkan kenaikan biaya produksi maupun meningkatnya permintaan, melainkan ulah rent seeker yang memanfaatkan momentum perubahan sistem uang.Ia menambahkan, faktor misinformasi publik juga dapat memperparah situasi. Sebagian masyarakat yang belum memahami kebijakan tersebut bisa panik dan salah menilai nilai uangnya menurun.“Karena memang ada unsur orang rent-seeker di situ, mencari momentum gitu ya, dan ini karena ada misinformasi masyarakat belum terbiasa,” ujarnya.Tauhid memperingatkan, persepsi keliru masyarakat dapat memicu gejolak sosial. Banyak warga akan merasa nilai uang mereka menurun karena angka pada saldo atau tabungan berkurang.“Mereka salah paham dan sebagainya karena perasaan nilai yang tadinya dimiliki banyak ya jutaan jadi hanya beberapa, yang punya miliaran (menjadi) hanya beberapa. Nah ini yang saya kira menjadi problem,” tutur Tauhid. Baca juga: Redenominasi Rupiah: Risiko Psikologis dan Tantangan PublikIa menegaskan, pemerintah perlu mengantisipasi potensi ini dengan memperkuat sosialisasi publik secara masif dan jelas.“Sosialisasi yang gencar di masyarakat,” kata dia.Rencana redenominasi rupiah kini kembali mencuat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memasukkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah ke dalam program prioritas.Rencana tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2025–2029, dengan target penyelesaian RUU pada 2027.“RUU tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi) merupakan RUU luncuran yang rencananya akan diselesaikan pada tahun 2027,” tertulis dalam PMK yang diteken pada 10 Oktober 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Namun, mengingat harga merupakan aspek yang sensitif bagi beberapa pasar berkembang, seperti Indonesia maupun India, vendor ponsel kabarnya bakal menggunakan strategi lain, selain kenaikan harga.Menurut bocoran yang dibagikan di blog Naver Korea Selatan, vendor ponsel kemungkinan memangkas RAM HP. Karena itu, beberapa ponsel dengan RAM 16 GB kemungkinan menjadi produk yang cukup langka.Sebaliknya, ponsel dengan RAM 4 GB justru akan lebih mendominasi ketimbang saat ini. Bocoran itu juga menyebutkan bahwa ponsel dengan RAM 12 GB bisa dipangkas hingga 40 persen, hingga menjadi 6 GB atau 8 GB. Sementara model yang biasanya dibekali RAM 8 GB, dipotong hingga 50 persen menjadi 4 GB atau 6 GB.Sayangnya, walaupun konfigurasi RAM beberapa ponsel tahun depan dipangkas, harganya tetap lebih mahal dibanding model sebelumnya, dilansir Gizmochina.Adapun kenaikan harga HP terjadi sebagian besar karena meningkatnya pemintaan memori di berbagai industri termasuk untuk data center kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga menimbulkan kelangkaan pasokan.Hal tersebut juga diamini oleh Xiaomi, hingga menyatakan bahwa harga produknya tahun depan meningkat.Baca juga: Ini Sebab Harga Memori RAM di Indonesia NaikXiaomi sudah mengumumkan rencana kenaikkan harga smartphone baru mulai tahun depan. Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden Xiaomi, Lu Weibing dalam konferensi pers terkait laporan pendapatan perusahaan pada November 2025 lalu.Ia mengataka bahwa keputusan ini diambil karena semakin mahalnya harga chip memori, akibat melonjaknya permintaan untuk server kecerdasan buatan (AI).Tingginya permintaan chip memori untuk server juga membuat perusahaan seperti Samsung, memangkas produksi chip memori termasuk untuk ponsel, dan mengalihkannya ke memori bandwidth tinggi (high bandwidth memory).Xiaomi Redmi Note 15 Pro 5G.

| 2026-01-12 12:27