JAKARTA, - Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, mulai menggantikan banyak pekerjaan level pemula dengan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Pakar ketenagakerjaan dan AI menilai, fenomena ini bisa akan mengubah jalur tradisional pengembangan karier bagi para pekerja muda di sektor white collar.Selama ini, fresh graduate biasanya memulai karier dengan pekerjaan dasar seperti riset, input data, atau tugas administratif lain. Dari pengalaman tersebut, mereka membangun keterampilan secara bertahap sambil belajar dari senior, hingga naik ke posisi ahli atau manajerial.Biasanya, mereka yang baru masuk pasar kerja melakukan pekerjaan dasar dengan risiko yang relatif rendah — seperti riset atau entri data. Mereka membangun keterampilan selama bertahun-tahun saat bekerja bersama rekan yang lebih berpengalaman, hingga akhirnya menjadi ahli dan naik ke posisi manajerial.Baca juga: Fokus Investasi ke AI, Amazon PHK 14.000 Karyawan"Pendekatan “ahli–pemula” dalam membangun keterampilan ini telah ada selama 160.000 tahun," kata Matt Beane, penulis “The Skill Code: How to Save Human Ability in an Age of Intelligent Machines” dan profesor di University of California, Santa Barbara, seperti dikutip dari CNBC. Jumat .Namun, menurut Beane, ekonomi saat ini sudah tidak berinvestasi pada hubungan ahli–pemula seperti dulu. Perusahaan mengurangi posisi entry-level dan menggantikannya dengan AI untuk meningkatkan efisiensi, memangkas biaya, dan meningkatkan keuntungan.Sebuah laporan yang dulu memerlukan lima orang selama satu minggu kini bisa dikerjakan hanya dalam satu jam dengan bantuan AI. Hal ini sebut dia, merupakan nilai tambah yang disukai perusahaan dan pelanggan.“Artinya secara praktis, analis junior, banker junior, atau pendidik junior tidak lagi mendapat kesempatan terlibat dalam pekerjaan itu karena mereka dianggap opsional,” kata Beane.Akibatnya, promosi menjadi semakin sulit — dinamika yang menurut para ahli dapat menimbulkan masalah bagi perusahaan dan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.Analisis terbaru Revelio Labs melaporkan, posting lowongan untuk pekerjaan entry-level di AS anjlok 35 persen dari Januari 2023 hingga Juni 2025."AI bukan satu-satunya penyebab penurunan tersebut, tetapi menjadi kontributor utama, terutama untuk pekerjaan pemula yang sangat terekspos otomatisasi AI," tulis Lisa Simon, Kepala Ekonom Revelio.Pekerjaan itu meliputi data engineer, software developer, customer service, compliance, penasihat keuangan, dan analis risiko.“Pekerjaan di awal karier adalah roda bantu untuk memulai sebuah karier,” kata Alison Lands, Wakil Presiden Employer Mobilization di Jobs for the Future.“Data menunjukkan bahwa AI mengganggu tangga karier tradisional yang selama ini kita kenal,” tambahnya.Beberapa perusahaan yang telah mengumumkan pengurangan karyawan karena AI tahun ini termasuk Klarna, Duolingo, dan Salesforce."Ketika AI mampu mengerjakan sebagian besar tugas dalam suatu pekerjaan, jumlah pekerja manusia dalam posisi tersebut turun sekitar 14 persen," sebut studi tahun 2025 yang dilakukan oleh peneliti MIT, Northwestern University, dan Yale University.
(prf/ega)
Mengapa AI Bisa Menghambat Kenaikan Karier bagi Banyak Pekerja Muda
2026-01-12 05:54:01
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:18
| 2026-01-12 05:51
| 2026-01-12 04:41
| 2026-01-12 04:08










































