Kisah Pilu Petani Aceh: Terobos Jalan Terjal, Jual Cabai Ganti Beras

2026-01-12 17:25:32
Kisah Pilu Petani Aceh: Terobos Jalan Terjal, Jual Cabai Ganti Beras
ACEH UTARA, – Linda (40), seorang petani cabai asal Aceh Tengah, terpaksa menempuh jalan terjal dan berisiko untuk menjual hasil panennya di Kota Lhokseumawe.Pada Rabu malam , ia terlihat duduk di pinggir Jembatan Cunda, Kecamatan Muara Dua, dengan tumpukan cabai di depannya."Cabai, Pak. Cabai Takengon, Bu," teriak Linda kepada warga yang melintas.Ia bercerita kebunnya sedang panen raya, sehingga banyak petani cabai yang harus membawa hasil panen ke berbagai daerah untuk dijual, terutama ke Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.Namun, perjalanan menuju lokasi tersebut tidaklah mudah.Baca juga: Update Banjir Aceh Utara: 154 Tewas, 10 Warga Belum DitemukanAkses jalan darat penghubung antara Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah serta Kabupaten Aceh Tengah putus total akibat longsor di empat titik ruas jalan pada 26 November 2025 lalu."Kami panggul cabainya pas jalan. Jika ketemu jalan yang bisa dilalui motor trail, maka kami sewa biayanya Rp 100.000 per sekali titik longsor," ungkap Linda.Linda tidak sendirian dalam perjuangannya. Ratusan petani lainnya juga melakukan hal serupa."Saya tak sanggup bawa banyak, maka saya ajak warga lain. Jadi, upah untuk memanggul cabainya nanti saya belikan beras sebagai gantinya," jelasnya.Harga cabai merah saat ini dijual dengan harga Rp 50.000 per kilogram, sementara cabai rawit mencapai Rp 60.000 per kilogram.Sejak sore hingga pukul 23.00 WIB, Linda membuka dagangannya di pinggir jalan tersebut."Mudah-mudahan tidak diusir sama Pemerintah Kota Lhokseumawe. Karena kami berjualan di pinggir jalan," harapnya.Setelah berhasil menjual cabai, uang yang didapatkan langsung digunakan untuk membeli beras, minyak goreng, dan kebutuhan sehari-hari lainnya."Selama ini saya bolak-balik dari Aceh Tengah ke Lhokseumawe membawa hasil panen. Rasanya badan remuk semua, tapi demi bertahan hidup, kami lakukan," pungkasnya.Kondisi ini terjadi di tengah bencana banjir yang merendam 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, dengan daerah terparah meliputi Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, dan Kabupaten Aceh Tengah.


(prf/ega)