- Ekonomi Jepang turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2025. Penurunan ini lebih kecil dari perkiraan, dengan konsumsi pemerintah dan swasta membantu menahan pelemahan.Menurut data pemerintah yang dirilis Senin , PDB Jepang menyusut 0,4 persen secara kuartalan pada periode Juli–September. Ini menjadi kontraksi pertama dalam enam kuartal.Angka tersebut lebih baik dari proyeksi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kontraksi 2,5 persen secara tahunan dan 0,6 persen secara kuartalan.Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang 2,2 Persen, tapi Ekspor TurunPermintaan publik naik 2,2 persen secara tahunan, ditopang konsumsi pemerintah. Sementara itu, permintaan swasta turun 1,8 persen akibat penurunan investasi residensial lebih dari 32 persen.Ekspor juga melemah, turun 4,5 persen secara tahunan dan 1,2 persen dibanding kuartal sebelumnya. Pada kuartal II, ekspor sempat naik 2,3 persen.Di pasar keuangan, yen melemah tipis terhadap dolar AS. Indeks Nikkei 225 terkoreksi 0,29 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 1.73 persen.Ekspor Jepang sebelumnya tertekan selama empat bulan sejak Mei akibat tarif AS. Namun, ekspor kembali tumbuh pada September setelah Jepang dan Washington mencapai kesepakatan dagang pada Juli.Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang 0,3 Persen pada Kuartal III 2024Tarif AS terhadap produk Jepang diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen, berlaku 7 Agustus.Konsumsi domestik turut menahan kontraksi. Konsumsi pemerintah naik 0,5 persen dan konsumsi swasta meningkat 0,1 persen dibanding kuartal sebelumnya.Permintaan publik secara keseluruhan tumbuh 0,5 persen kuartalan dan menyumbang 0,1 poin persentase terhadap ekonomi.Sebaliknya, permintaan swasta menjadi penekan utama PDB. Permintaan ini turun 0,4 persen kuartalan dan mengurangi pertumbuhan 0,3 poin persentase, seiring anjloknya investasi residensial sebesar 9,4 persen.Harumi Taguchi, Principal Economist S&P Global Market Intelligence, memperkirakan ekonomi akan kembali pulih.Baca juga: Jepang Siapkan Stimulus Ekonomi Baru, Fokus ke AI dan SemikonduktorIa menilai dampak regulasi perumahan baru akan berkurang. Jepang mewajibkan standar konservasi energi lebih ketat untuk proyek baru mulai 1 April 2024.Taguchi menambahkan bahwa meredanya ketidakpastian tarif AS dan kesepakatan AS–China menurunkan tarif timbal balik ikut mendorong pesanan dari Jepang.Lemahnya pertumbuhan diperkirakan memperkuat rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menggenjot stimulus ekonomi.Pemerintah disebut menyiapkan paket dengan fokus investasi “berani dan strategis” pada manajemen krisis dan sektor pertumbuhan.Mengutip draf yang diperoleh Reuters, pemerintah Jepang akan menambah belanja “tanpa ragu” untuk mendukung ekonomi yang mulai keluar dari stagnasi.Baca juga: Jepang Disebut Tertarik Tanam Modal di IKN, Fokus ke Industri Bersih dan BerkelanjutanInvestasi juga akan diarahkan ke sektor pertumbuhan utama, seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan industri perkapalan.Nikkei sebelumnya melaporkan nilai paket stimulus tersebut lebih dari 10 triliun yen (64,63 miliar dollar AS). Program ini mencakup subsidi listrik dan gas, serta dukungan bagi usaha kecil dan menengah untuk menaikkan upah.
(prf/ega)
Ekonomi Jepang Minus 1,8 Persen, Akhiri Tren Enam Kuartal Tanpa Kontraksi
2026-01-15 02:43:48
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-15 03:13
| 2026-01-15 03:05
| 2026-01-15 02:54
| 2026-01-15 02:10
| 2026-01-15 01:06










































