Warga Desak TPA Cipeucang Ditutup, DLH Tangsel: Tak Bisa Langsung, Perlu Koordinasi

2026-01-16 14:42:02
Warga Desak TPA Cipeucang Ditutup, DLH Tangsel: Tak Bisa Langsung, Perlu Koordinasi
TANGERANG SELATAN, - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) menyatakan, penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang tidak bisa dilakukan secara langsung meski warga menuntut agar lokasi tersebut segera ditutup.Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Hadi Widodo, mengatakan, pihaknya masih memerlukan koordinasi lintas instansi sebelum mengambil keputusan terkait penutupan total TPA.“Ada beberapa poin tuntutan warga termasuk penutupan lokasi TPA Cipeucang. Ini tentu tidak bisa serta-merta kita langsung tutup, kita perlu koordinasi ke berbagai pihak, termasuk pimpinan,” ujar Hadi saat ditemui di Serpong, Tangsel, Senin .Baca juga: Warga Tangsel Demo di Kantor UPT, Desak TPA Cipeucang DitutupOleh sebab itu, tuntutan warga, termasuk penutupan TPA, belum bisa dipastikan kapan akan dipenuhi. Rencana relokasi TPA juga membutuhkan biaya besar.Menurut Hadi, proses penutupan maupun relokasi harus melalui tahap perencanaan yang matang.“Kita pengennya secepatnya, tapi banyak hal yang harus disiapkan. Termasuk perencanaan yang matang dan sisi penganggaran yang berpengaruh,” kata dia.DLH juga tengah menyiapkan pembebasan lahan bagi warga terdampak TPA Cipeucang. Proses ini akan dilakukan secara bertahap.“Dalam waktu dekat ini sekitar 4.000 meter yang dibebaskan, sisanya tahun depan. Totalnya sekitar 3 hektare,” kata dia.Hadi berujar, anggaran untuk pembebasan lahan mencapai sekitar Rp 50 miliar, yang mana seluruhnya bersumber dari APBD.Baca juga: Warga Serpong Minta Pemkot Tangsel Tutup TPA Cipeucang Ditutup hingga Beri Kompensasi“Total sementara sekitar Rp 50 miliar, bidangnya banyak. Kita saat ini sedang menyusun perencanaan, DPPT, appraisal, dan seterusnya,” jelas dia.Diketahui, Warga Cipeucang melakukan demo dengan membawa spanduk putih bertuliskan permintaan untuk menutup TPA Cipeucang."Tutup TPA Cipeucang!" tulis dalam spanduk yang dibawa warga ke Kantor UPT Cipeucang.Tidak hanya itu, mereka juga membawa sebuah kertas yang berisikan tuntutan warga terkait masalah TPA Cipeucang yang memberikan dampak cukup parah bagi mereka.Adapun isi tuntutan dalam kertas putih itu, yakni:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-16 13:12