Respons BYD Soal Perang Harga EV Indonesia: Hanya Merugikan Konsumen

2026-01-11 23:26:44
Respons BYD Soal Perang Harga EV Indonesia: Hanya Merugikan Konsumen
JAKARTA, - Merek BYD, sejak hadir di Indonesia, menawarkan mobil listrik dengan harga yang menarik.Paling baru, ada Atto 1 varian termurah dengan banderol tidak sampai Rp 200 juta.Kehadiran Atto 1 sontak membuat diler mobil lain mengeluarkan strategi menurunkan harga jual, terutama jika produknya lebih kecil tetapi lebih mahal.Baca juga: BYD Mulai Produksi EV di Pabrik Subang Kuartal I 2026Titus Romania BYD M6 dipakai setahun, sukses melibas Dieng hingga perjalanan jauh lain, hemat biaya servis, tapi ada beberapa kekurangan.Selain itu, muncul juga merek baru dengan strategi harga yang lebih murah dari Atto 1, sebut saja Changan Lumin.Memang, secara dimensi, Lumin lebih kecil dari Atto 1, serta pintunya juga hanya dua.Baca juga: Veloz Hybrid vs Rival, Siapa 7-Seater Hybrid Termurah Saat Ini?Luther T Panjaitan, Head of Marketing Communication PT BYD Motor Indonesia, mengatakan bahwa selama penjualan, Luther mempelajari bahwa preferensi pembelian konsumen di Indonesia bukan hanya soal harga yang murah."Ada beberapa pertimbangan, yang kita lihat pertama kualitas produknya, kedua merek. Konsumen di Indonesia itu sangat perhatian dengan brand," kata Luther di Jakarta, Minggu .Menurutnya, mobil baru yang masuk bisa saja murah, tetapi apakah kualitasnya memenuhi ekspektasi konsumen atau tidak.Selain itu, dari segi merek, mereka juga melihat apakah merek tersebut bisa tahan lama di Indonesia."Ketiga, itu bagaimana program atau bisnis jangka panjang dari mereknya. Itu bisa memberikan rasa percaya konsumen terhadap merek. Misalnya, BYD, jaringan kita sudah membangun 62 showroom dan juga membangun pabrik, artinya ada jaminan terhadap keberlanjutan," kata Luther.Luther menegaskan bahwa BYD tidak ingin ikut-ikutan dalam persaingan harga karena hal itu tidak menguntungkan dan tidak berkelanjutan.Pada akhirnya, yang dirugikan dari perang harga adalah konsumen itu sendiri. "Jadi kita, BYD adalah brand yang tidak mau masuk dan ikut-ikutan dalam pertarungan perang harga. Ujungnya hanya menghancurkan industri dan merugikan konsumen," kata Luther.


(prf/ega)