Tips Keamanan Siber: Melindungi Data Pribadi

2026-01-12 07:01:35
Tips Keamanan Siber: Melindungi Data Pribadi
TERLALU gampang percaya pada identitas daring dan abai terhadap pelindungan data pribadi, bisa menjadi awal modus peretasan dan kejahatan siber. Penjahat siber bisa beraksi dengan mudah saat mengantongi data pribadi korbannya.Mereka akan mengombinasikan aksinya dengan teknologi open source disertai rekayasa sosial (social engineering).Dewan Eropa dalam publikasinya “Cybersecurity: social engineering” menyatakan rekayasa sosial adalah strategi yang digunakan oleh individu atau kelompok untuk memanipulasi dan menipu orang agar mengungkapkan informasi sensitif atau melakukan tindakan yang membahayakan keamanan mereka sendiri.Strategi ini mengandalkan psikologi dan perilaku manusia, ketimbang pengetahuan teknis. Penyerang sering kali berpura-pura menjadi seseorang atau sumber terpercaya, untuk mendapatkan kepercayaan korban.Penyerang menggunakan taktik peniruan identitas, persuasi atau tipu daya untuk mendapatkan informasi berharga seperti kata sandi, rincian data keuangan, serta akses terhadap sistem dan jaringan.Modus rekayasa sosial dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Strateginya adalah mengeksploitasi kerentanan manusia untuk mencapai tujuan penyerang mendapatkan akses tanpa izin, mencuri data, maupun uang.Baca juga: Jejak Uang di Balik Banjir dan Longsor di Sumatera (Bagian I)Hal yang lebih miris adalah korban dalam kondisi tertentu bisa terjebak menjadi pelaku. Misalnya, ketika ia mengikuti kemauan penipu, termasuk merekam video asusila atau tindakan melanggar hukum lainnya karena diancam.Kejahatan siber bisa menyasar siapa pun, termasuk generasi Milenial dan generasi setelahnya yang dianggap paling fasih dan khatam digital.Untuk mengatasi kejahatan siber, pendekatan teknologi dan hukum saja tak cukup. Psikolog siber Ruth Guest memperingatkan bahwa rasa percaya diri berlebih, misalnya, pada generasi melek digital, dapat memicu perilaku berisiko.Dikutip dalam laporan Kaspersky, Ruth mengatakan, ketika memercayai kecerdasan digital secara implisit, kita mungkin mengabaikan kemungkinan bahwa orang lain tidak sejujur seperti tampilan yang kita lihat atau bayangkan.Dalam beberapa kasus, individu dengan sifat narsis, psikopat, atau Machiavellian yang kuat memanfaatkan kepercayaan melalui penipuan dan taktik lainnya. Pendekatan teknologi, hukum dan psikologi siber adalah kebutuhan.Jika ada lapis generasi yang dianggap paling lekat dengan teknologi digital, maka itulah generasi Milenial. Generasi yang awal “warga negara digital” dan kemudian disusul generasi berikutnya.Laporan Kaspersky menyimpulkan bahwa generasi Milenial tumbuh seiring dengan maraknya media sosial dan komunikasi digital. Dalam banyak hal tampak sebagai generasi yang paling melek teknologi.Kenapa menyentuh hal ini penting? Karena penelitian Kasperksy mengungkap kenyataan mengkhawatirkan. Sekitar 70 persen generasi ini jarang melakukan verifikasi keaslian orang-orang yang berinteraksi dengan mereka secara daring.Mereka pun rentan terhadap risiko siber seperti penipuan identitas, misinformasi, dan penipuan emosional.Seiring dengan semakin pentingnya pertemanan digital dan komunitas daring dalam kehidupan sehari-hari, generasi Milenial dan generasi lainnya perlu memikirkan kembali pendekatan mereka terkait kepercayaan pada identitas daring.Keinginan untuk terhubung dan mendapatkan validasi, mendorong perubahan perilaku signifikan untuk memprioritaskan interaksi media sosial dibanding interaksi dunia nyata, termasuk berbagi informasi pribadi secara berlebihan di ruang digital.Tren ini membuat pengguna rentan terhadap ancaman keamanan siber yang lebih tinggi. Di sinilah pentingnya literasi dan kehati-hatian digital.Laporan itu juga menyebut, meskipun menjadi generasi pertama internet, banyak Milenial yang salah menaruh kepercayaan dalam interaksi daring mereka.Baca juga: Ironi Menilai Strategi Bisnis dengan Timbangan Rongsok


(prf/ega)

Berita Terpopuler