Pramono Minta 11 Pejabat DKI yang Baru Dilantik Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem

2026-02-01 22:58:52
Pramono Minta 11 Pejabat DKI yang Baru Dilantik Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem
JAKARTA, - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan para pejabat yang baru dilantik untuk bersiap menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi dalam beberapa pekan ke depan.Peringatan tersebut disampaikan Pramono usai melantik 11 pejabat pimpinan tinggi pratama di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu .“Pesan saya terakhir, minggu-minggu depan ini akan ada cuaca ekstrem kembali. Maka bagi para pejabat yang baru dilantik maupun yang sudah lama dilantik, harus mempersiapkan diri untuk itu,” ucap Pramono, Rabu.Baca juga: Pramono Lantik 11 Pejabat Pemprov DKI, Ada Wali Kota hingga Kepala DinasPramono meminta seluruh pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI tetap siaga dan tidak menjadikan kondisi cuaca sebagai alasan untuk menurunkan pelayanan kepada masyarakat.Ia menyebut, cuaca ekstrem berpotensi menimbulkan berbagai dampak. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru 2026.“Saya berharap semuanya total untuk bekerja menangani dalam rangka kita menyambut Natal dan Tahun Baru, yang kemungkinan akan ada curah hujan yang tinggi, permukaan air yang naik, angin beliung yang mungkin ada,” kata dia.Menurut Pramono, pengalaman menghadapi banjir rob sebelumnya menunjukkan pentingnya kesiapan dan koordinasi cepat di lapangan. Karena itu, ia meminta seluruh jajaran bekerja secara maksimal dan saling mendukung.Pramono juga menegaskan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Ia berharap para pejabat yang baru dilantik dapat segera bekerja dan menunjukkan kinerja terbaik.“Tetap kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Selamat bertugas, selamat bekerja,” ujar Pramono.Baca juga: Bantargebang: Monumen Krisis dan Cermin Gagalnya Tata Kelola Sampah JakartaSebagai informasi, Pramono Anung melantik 11 pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.Adapun 11 pejabat yang dilantik, yakni:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 21:35