Unik, Misa Natal GKJW Rungkut Surabaya Dihiasi Dekorasi Ramah Lingkungan

2026-02-02 21:04:45
Unik, Misa Natal GKJW Rungkut Surabaya Dihiasi Dekorasi Ramah Lingkungan
SURABAYA, - Misa Natal di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Rungkut, Surabaya, berjalan khidmat dan penuh suka cita pada Rabu malam.GKJW Jemaat Rungkut dipadati jemaat pada malam Natal, dengan tenda-tenda dan ornamen Natal yang menghiasi setiap sudut gereja.Sebuah pohon Natal setinggi 2,5 meter, terbuat dari kerangka besi dililit lampu hias, menyambut jemaat di pintu masuk.Baca juga: Pohon Natal dari Sampah Plastik Hiasi Gereja Santo Paulus PekanbaruDi pintu utama ruang ibadah, tiga pohon Natal berbentuk kerucut menghiasi sudut ruangan.Satu di antaranya berkerangka besi dihias lilin yang dibungkus potongan botol air mineral, sementara yang lain terbuat dari origami koran dan dihiasi lampu emas.Di dalam ruang doa, terdapat pohon Natal berukuran sedang yang disusun dari gelas kemasan air minum dan snack, serta pita dari bekas kemasan makanan.Secara keseluruhan, enam pohon Natal berbahan daur ulang menjadi daya tarik utama perayaan Natal jemaat GKJW Jemaat Rungkut Surabaya.Ketua Panitia Natal GKJW Rungkut Surabaya, Irawan Febri menyatakan, keenam pohon Natal daur ulang tersebut merupakan karya dari delapan kelompok jemaat yang dilombakan dengan tema barang bekas."Kita memang lempar ke delapan kelompok dan karya ini dilombakan temanya menggunakan barang bekas pakai," kata Irawan kepada Kompas.com, Rabu .Pembuatan pohon Natal ini telah dilakukan selama beberapa minggu sebelum ibadah Natal, dengan jemaat bersemangat mengumpulkan barang bekas."Setelah Natal ini bahan-bahan dari pohonnya ada dari plastik kita kumpulkan, kalau kertas kita kumpulkan lagi, bisa dikreasikan lagi untuk tahun depan," ucapnya.Irawan menambahkan, seluruh jemaat mulai dari anak-anak hingga lansia, turut serta dalam pembuatan pohon Natal sebagai bentuk kerja sama antar generasi."Bekerja sama antar generasi. Jadi mulai anak-anak yang pulang kerja, bapaknya jemput anak sekolah, kita bikin bareng-bareng, berkreasi," ungkapnya.Irawan menegaskan, GKJW Jemaat Rungkut Surabaya tidak hanya mengampanyekan ramah lingkungan saat Natal, tetapi juga dalam kegiatan reguler melalui berbagai program gereja, termasuk program gereja ramah anak."Ada program gereja sendiri untuk ramah lingkungan, gereja ramah anak. Kita mengurangi sampah plastik. Kalau ada kegiatan apapun kita imbau bawa tumbler masing-masing, bisa ngisi air di sini," jelasnya.Gereja juga berupaya memberikan dampak positif kepada warga sekitar dengan mengumpulkan minyak jelantah."Kita sudah mulai mengumpulkan minyak jelantah dari warga karena walaupun sedikit itu bisa menyokong rencana renovasi kita," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Lainnya

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 21:03