Ancaman Drone Rusia Kian Nyata, Uni Eropa Dinilai Belum Siap Bertahan

2026-01-12 06:01:41
Ancaman Drone Rusia Kian Nyata, Uni Eropa Dinilai Belum Siap Bertahan
- Komisaris pertahanan Uni Eropa, Andrius Kubilius, mengingatkan bahwa negara-negara Eropa belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman pesawat nirawak (drone) Rusia dan perlu segera meningkatkan kemampuan pertahanan udara, Senin .Peringatan itu disampaikan setelah insiden pada September, ketika jet-jet NATO menembak jatuh drone Rusia di wilayah udara Polandia.Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara kini tengah bekerja memperkuat sistem anti-drone, meski detail rencana tersebut belum dipublikasikan dan diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terwujud.Baca juga: Drone Misterius Muncul di Bandara Eropa, Picu Kekhawatiran Perang Hibrida RusiaDalam pidatonya di Vilnius, Kubilius mempertanyakan lambatnya respons Eropa terhadap ancaman drone Moskwa."Mengapa kita butuh waktu lebih dari dua tahun dan pemicu provokasi Rusia dengan pesawat nirawak terhadap Polandia, dan juga terhadap negara-negara Baltik dan Rumania, untuk memahami bahwa kita belum siap mendeteksi pesawat nirawak Rusia dan menghancurkannya dengan cara yang hemat biaya?" ujarnya."Rusia sedang belajar. Apakah kita juga?" tambahnya, sebagaimana diberitakan AFP.Setelah insiden di Polandia, NATO mengirim bala bantuan ke kawasan timur serta menambah sistem pertahanan drone untuk memperkuat garis depan aliansi. Namun, Kubilius menilai langkah itu belum cukup.Ia menekankan bahwa Eropa perlu mengintegrasikan Ukraina, negara yang militernya telah teruji dalam pertempuran dan memiliki sekitar 800.000 personel ke dalam arsitektur pertahanan kawasan."Jika kita tidak melakukan itu, kita akan membuat kesalahan historis, yang akan membuat kita semakin lemah. Dan yang akan membuat Ukraina semakin lemah," kata Kubilius.Baca juga: Swedia Mulai Timbun Makanan di Tengah Ketegangan dengan Rusia, Eropa Waspada?Peringatan tersebut muncul di tengah kekhawatiran badan intelijen Eropa bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dapat menargetkan salah satu negara NATO dalam beberapa tahun mendatang jika perang di Ukraina mencapai akhir.


(prf/ega)