- Dalam proses tumbuh kembang anak, kata-kata orangtua memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan yang sering disadari. Kalimat yang terucap di tengah lelah, marah, atau frustrasi bisa berubah menjadi luka emosional yang mendalam, terutama jika mengandung unsur toxic. Pada anak laki-laki, kalimat toxic kerap dibungkus dengan norma maskulinitas yang kaku, sehingga tanpa sadar membentuk pola emosi yang tertekan hingga dewasa.Bahasa yang toxic bukan hanya menyakiti perasaan sesaat, tetapi juga dapat memengaruhi cara anak laki-laki memandang diri sendiri, emosi, dan relasinya di masa depan.Baca juga: Mengenal Manchild, Ketika Laki-laki Tak Mau Tumbuh DewasaKalimat toxic yang bisa melukai mental anak laki-lakiUcapan seperti “Kamu terlalu sensitif,” “Anak laki-laki jangan menangis,” atau “Tidak usah lebay” termasuk bentuk kalimat toxic yang paling sering diterima anak laki-laki sejak kecil.Kalimat ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa emosi adalah sesuatu yang salah dan harus ditekan.Psikolog klinis Dr. Jamie Long, Psy.D. menegaskan, invalidasi emosi merupakan salah satu bentuk luka emosional paling berbahaya. “Invalidasi adalah salah satu bentuk pelecehan emosional yang paling merusak, dan yang mengkhawatirkan, sering kali terjadi tanpa disadari,” jelasnya, seperti dikutip dari PopSugar, Senin .Kalimat toxic semacam ini membuat anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan mereka tidak penting, sehingga berisiko mengalami kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi saat dewasa.Baca juga: 6 Tips agar Anak Laki-laki Tak Terjerat Maskulinitas ToksikFREEPIK Ilustrasi anak menunjukkan gejala anemia.Kalimat seperti “Laki-laki harus kuat,” “Jangan cengeng,” atau “Man up” adalah contoh ungkapan toxic yang menanamkan standar maskulinitas sempit. Anak laki-laki seolah dipaksa untuk selalu tangguh, tanpa ruang untuk rapuh. Padahal anak laki-laki ataupun perempuan punya kesempatan yang sama untuk menjadi rapuh.Konselor profesional berlisensi Anahid Lisa Derbabian menyebut keyakinan kaku tentang peran anak laki-laki bisa sangat merugikan. “Keyakinan yang kaku tentang apa arti menjadi anak laki-laki dapat berdampak buruk, karena anak laki-laki hadir dengan beragam kepribadian, minat, dan kebutuhan emosional,” ujarnya.Kalimat toxic ini berisiko membuat anak menekan stres dan kesedihan, yang kelak bisa muncul dalam bentuk kemarahan atau agresi.Baca juga: Anak Laki-laki dari Keluarga Harmonis Juga Bisa Jadi Sosok Fatherless, Psikolog Ungkap Sebabnya
(prf/ega)
Kalimat Sepele tapi Toxic ini Bisa Melukai Mental Anak Laki-laki
2026-01-12 06:23:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:11
| 2026-01-12 06:45
| 2026-01-12 06:22
| 2026-01-12 04:50
| 2026-01-12 04:33










































