JAKARTA, - Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menyoroti persoalan ketidakadilan, korupsi, dan keserakahan yang dinilai kian menggerus nilai kemanusiaan dalam Pesan Natal 2025.Ia menegaskan, Gereja tidak boleh diam menghadapi berbagai persoalan sosial yang merugikan masyarakat luas.“Dalam konteks tata kelola kehidupan bersama yang tidak baik, Gereja harus berani menyuarakan suara kenabian tentang ketidakadilan, korupsi, dan berbagai bentuk penyimpangan,” ujar Kardinal Suharyo usai Misa Pontifikal Natal di Gedung Karya Pastoral, Kompleks Katedral Jakarta, Kamis .Baca juga: Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum LemahUskup Keuskupan Agung Jakarta itu menjelaskan, pesan Natal tahun ini memuat dua pokok utama.Pertama, Pesan Natal Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.”Kedua, Pesan Natal khusus Keuskupan Agung Jakarta berjudul “Gereja Merawat Kemanusiaan, Keadilan, dan Kelestarian Alam.”Baca juga: Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas KehidupanMenurut Kardinal Suharyo, istilah “menyelamatkan” dalam perayaan Natal tidak semata dimaknai secara spiritual, melainkan juga sebagai proses pemulihan dan penguatan kehidupan manusia dalam berbagai aspek.“Yang diharapkan pulih dan kuat bukan hanya kehidupan rohani, tetapi juga kehidupan berkeluarga, komunitas, masyarakat, dan bangsa,” kata dia.Kardinal menilai, konteks perayaan Natal 2025 tidak terlepas dari berbagai tantangan serius yang dihadapi Indonesia.Mulai dari bencana alam yang sebagian dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, hingga persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks.Baca juga: Misa Pontifikal Natal di Katedral Jakarta Dihadiri Hingga 3.500 JemaatSuharyo juga menyinggung situasi pemerintahan yang telah berjalan lebih dari satu tahun, tetapi masih dihadapkan pada tantangan besar terkait kesejahteraan rakyat, demokrasi, perlindungan hak asasi manusia, penegakan hukum yang adil, serta tata kelola pemerintahan yang bersih.“Setiap hari kita membaca berita-berita tentang persoalan ekonomi dan sosial yang sangat pelik. Inilah konteks kita hari ini,” ujar dia.Dalam situasi tersebut, Suharyo menyebutkan bahwa Gereja dipanggil untuk hadir sebagai jembatan di tengah masyarakat.Gereja tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mendoakan para pemimpin dan pemegang mandat rakyat agar bekerja sungguh-sungguh demi kesejahteraan bersama.Baca juga: Khidmat dan Hangat, Suasana Misa Pontifikal di Gereja Katedral JakartaMengutip Paus Fransiskus, Suharyo menyebut ada tiga persoalan besar ketidakadilan yang perlu mendapat perhatian serius, yakni ketidakadilan struktural, korupsi, dan apa yang disebut sebagai “berhala” zaman modern.
(prf/ega)
Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025
2026-01-11 22:35:31
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:58
| 2026-01-11 21:33
| 2026-01-11 20:33
| 2026-01-11 20:30










































