Proses Pemakaman Raja Solo, Pakubuwono XIII di Imogiri

2026-01-12 03:59:54
Proses Pemakaman Raja Solo, Pakubuwono XIII di Imogiri
- Sri Susuhunan Pakubuwana XIII Hangabehi, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, wafat pada Minggu pagi, 2 November 2025, di Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Sukoharjo.Ia dimakamkan di tempat yang telah menjadi simbol keabadian para leluhur Mataram Islam: Astana Pajimatan Imogiri. Prosesi pemakaman Pakubuwana XIII dijadwalkan pada Rabu, 5 November 2025. Keputusan itu tidak diambil sembarangan. KGPH Hangabehi, putra tertua mendiang raja, menjelaskan bahwa pemakaman ditunda karena perhitungan hari Jawa.“Hari Selasa itu weton Kliwon, yang dalam perhitungan keraton dianggap kurang baik. Karena itu, pemakaman dipilih pada hari Rabu. Selain itu, juga masih menunggu kedatangan tamu dari berbagai pihak,” tutur KGPH Hangabegi ketika dijumpai Kompas.com di Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta, Senin . Sejak hari wafatnya, keraton menerima tamu tanpa henti. Para abdi dalem, sentono, masyarakat, hingga pejabat datang memberi penghormatan terakhir. Di Sasana Parasdya, tempat jenazah disemayamkan, doa dan tembang Jawa mengiringi setiap langkah peziarah yang datang.Baca juga: Pakubuwono XIII: Profil dan Sejarah GelarnyaKOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati Kereta jenazah khusus disiapkan untuk mengantarkan jenazah Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII.Sebelum di makamkan, jenazah Sinuhun Pakubuwono XIII menjalani upacara adat di dalam Keraton. Jenazah dimandikan di Masjid Dalam Pujasumo. Di mana tempat ini memiliki nilai sakral karena sejak dahulu sudah digunakan sebagai prosesi pemandian jenazah para raja Surakarta. Setelah dimandikan, jenazah diberi busana, dibungkus kain kafan, dan dimasukkan ke dalam peti (tabelo) untuk kemudian disemayamkan di Sasana Parasdya, tempat di mana masyarakat dan tamu undangan dapat memberikan penghormatan terakhir.Di malam harinya dilakukan doa-doa bersama untuk Sinuhun. Ramai dengan tamu berpakaian adat Jawa dan wewangian bunga. Keesokan harinya, kirab dilakukan. Dari Keraton Surakarta, jenazah dikirab menggunakan kereta jenazah yang merupakan kendaraan pusaka peninggalan keraton. Kereta jenazah ditarik oleh delapan ekor kuda menuju Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo. "Layonnya nanti dikirab dari Keraton menuju Alun-alun Selatan, kemudian ke perempatan Gemblegan, ke arah Nonongan, dan ke Jalan Slamet Riyadi. Setelah berhenti di Loji Gandrung,,” jelas KGPH Hangabehi. Sesampainya di Loji Gandrung, jenazah dipindahkan ke ambulans yang akan membawa ke Imogiri. Setiba di sana, jenazah disemayamkan di Masjid Imogiri, disalatkan, lalu diarak menapaki ratusan anak tangga menuju puncak bukit tempat makam para raja Mataram berada.Baca juga: Sri Susuhunan Pakubuwono I: Silsilah dan Perjalanannya menjadi Rajakebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta Gapura Supit Urang secara simbolis merupakan gapura pertama untuk masuk ke Kompleks Makam Imogiri.Imogiri bukan sekadar bukit sunyi. Ia adalah simbol spiritual dan kebudayaan Jawa. Dikenal sebagai Pasareyan Agung Imogiri, kompleks ini menjadi peristirahatan bagi para raja dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Di tempat ini, dunia fana seolah bertemu dengan alam keabadian leluhur Mataram.Gagasan pembangunan makam kerajaan di bukit ini berawal dari kehendak Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram abad ke-17. Awalnya, ia ingin dimakamkan di Bukit Giriloyo, tetapi kemudian memindahkan lokasi ke Bukit Merak, kini dikenal sebagai Imogiri.


(prf/ega)