Kapitalisasi Pasar BEI 2025 Lampaui Target RPJMN

2026-02-02 13:25:18
Kapitalisasi Pasar BEI 2025 Lampaui Target RPJMN
JAKARTA, - Nilai kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak menjadi Rp 15.810 triliun saat ini.Angka itu melampaui target yang telah ditetapkan dalam roadmap atau peta jalan pengembangan pasar modal nasional maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pencapaian tersebut sebagai refleksi kuatnya kepercayaan investor dan efektivitas kebijakan yang responsif sepanjang 2025.Baca juga: Marak Serangan Siber, OJK dan BEI Perkuat Keamanan hingga LitrerasiSHUTTERSTOCK/HARYANTA.P Ilustrasi bursa efek Indonesia (BEI). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan setelah melewati periode volatilitas tinggi, pasar modal Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang solid dan konsisten.Ia mengungkapkan hingga 29 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 22,10 persen secara year-to-date dan ditutup di level 8.644,26.Sepanjang tahun, IHSG beberapa kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH), menandakan optimisme investor tetap terjaga di tengah dinamika global yang menantang. Kenaikan IHSG pun mendorong nilai kapitalisasi pasar BEI.“Nilai kapitalisasi pasar telah melampaui target yang kami tetapkan dalam roadmap pasar modal dan RPJMN. Market cap mencapai Rp Rp 15.810 triliun, dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 71,41 persen,” ujar Inarno saat penutupan perdagangan bursa efek 2025, Jakarta, Selasa .Baca juga: Kapan Aturan Free Float Diperketat? Ini Bocoran OJK dan BEI Menurutnya, capaian ini memperlihatkan semakin besarnya peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan perekonomian nasional.Kinerja positif juga tercermin di pasar surat utang. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 440,19, naik 12,10 persen secara year-to-date./ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (PMDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi ketika ditemui usai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2025, Selasa .Pertumbuhan tersebut menunjukkan minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap tetap kuat, meski pasar global masih dibayangi normalisasi kebijakan suku bunga dan ketidakpastian geopolitik.Dari sisi penghimpunan dana, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2025 mencatatkan pertumbuhan signifikan.Baca juga: Cegah Konflik Kepentingan, OJK dan BEI Mulai Kaji Demutualisasi BursaTotal dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 268,14 triliun dari 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten saham baru dan dua emiten baru EBUS. Angka ini jauh melampaui target penghimpunan dana 2025 yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp 220 triliun.Tak hanya itu, industri pengelolaan investasi juga menunjukkan akselerasi tajam.Nilai dana kelolaan tumbuh 24,16 persen secara year-to-date (YTD) hingga mencapai Rp 1.039 triliun. Capaian itu bahkan telah melampaui target yang ditetapkan dalam roadmap 2027.Lebih jauh, basis investor pasar modal pun terus melebar. Hingga 23 Desember 2025, jumlah single investor identification (SID) bertambah sekitar 5,34 juta investor baru, sehingga total SID mencapai 20,2 juta.Baca juga: Lepas dari Jerat PKPU, Kapan Suspensi Saham PP Properti (PPRO) Dibuka BEI?


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 11:20