DPR Bakal Evaluasi Kemenkes Buntut Ibu Hamil di Papua Meninggal Ditolak RS

2026-02-03 22:10:59
DPR Bakal Evaluasi Kemenkes Buntut Ibu Hamil di Papua Meninggal Ditolak RS
JAKARTA, - Ketua DPR RI Puan Maharani memerintahkan Komisi IX yang membidangi urusan kesehatan untuk mengevaluasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menyusul kasus meninggalnya seorang ibu dan bayinya di Papua setelah ditolak empat rumah sakit rujukan.Puan menilai insiden tersebut membuktikan adanya persoalan serius dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).“Jadi DPR juga prihatin dan tentu saja ini sangat concern dan akan meminta komisi terkait untuk mengevaluasi pelaksanaan, hal-hal terkait dengan penanganan kesehatan yang terjadi di khususnya di wilayah 3T,” ujar Puan saat ditemui di Gedung DPR RI, Selasa .Baca juga: Ibu Hamil Meninggal di Papua Usai Ditolak RS, Puan: Jangan Terjadi LagiPuan menegaskan bahwa DPR prihatin dengan peristiwa tersebut dan mendorong dilakukannya perbaikan tata kelola layanan kesehatan.Politikus PDI-P itu berharap evaluasi yang akan dilakukan bisa menghasilkan perbaikan sistem dan mencegah penolakan layanan terjadi lagi bagi pasien dalam kondisi darurat.“Jadi jangan sampai terjadi lagi penanganan atau kelalaian penanganan kesehatan yang terjadi seperti ini,” kata Puan.Baca juga: Prabowo Dengar Kasus Ibu Hamil Meninggal di Papua, Langsung Perintahkan AuditPuan menambahkan, DPR juga mendorong Kementerian Kesehatan mengevaluasi fasilitas dan prosedur penanganan pasien di seluruh rumah sakit, termasuk aspek rujukan dan layanan darurat.“Jadi kami akan meminta Kementerian Kesehatan khususnya, untuk bisa mengevaluasi penanganan kesehatan di rumah sakit-rumah sakit. Jangan sampai ada masyarakat yang kemudian tidak tertangani khususnya di wilayah 3T,” pungkas Puan.Diberitakan sebelumnya, seorang ibu di Papua bernama Irene Sokoy meninggal pada Senin pukul 05.00 WIT setelah tidak mendapatkan pelayanan memadai dari empat rumah sakit rujukan di Jayapura.Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, yang juga mertua korban, mengungkapkan bahwa Irene mulai merasakan kontraksi pada Minggu siang .Keluarga kemudian membawa Irene menggunakan speedboat ke RSUD Yowari.Namun, dokter tidak ada di tempat dan proses pembuatan surat rujukan berlangsung sangat lambat.“Pelayanan sangat lama. Hampir jam 12 malam surat belum dibuat,” ujar Abraham.Baca juga: Kronologi Ibu Hamil dan Bayinya Meninggal Usai Ditolak 4 RS di JayapuraKeluarga membawa Irene ke RS Dian Harapan dan RSUD Abepura, tetapi lagi-lagi tidak mendapatkan layanan.Perjalanan terakhir menuju RS Bhayangkara juga tidak berhasil karena keluarga diminta membayar uang muka Rp 4 juta dengan alasan kamar BPJS penuh.Ada empat rumah sakit yang tercatat menolak Irene, yaitu RSUD Yowari, RSUD Abepura, RS Bhayangkara, dan RS Dian Harapan.Keluarga menyebut Irene akhirnya meninggal dalam perjalanan setelah menempuh perjalanan medis panjang tanpa mendapatkan penanganan darurat.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-03 22:48