Ekonomi Tumbuh 5,04 Persen: Stimulus Jalan, Konsumsi Pelan

2026-01-12 06:07:52
Ekonomi Tumbuh 5,04 Persen: Stimulus Jalan, Konsumsi Pelan
BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis data resmi bahwa ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2025 tumbuh 5,04 persen year-on-year. Angka ini terdengar menggembirakan karena Indonesia masih mampu bertahan di atas lima persen, ambang psikologis yang kerap dijadikan parameter stabilitas pertumbuhan.Namun, ada catatan penting yang tidak tampak dari angka kasarnya: pertumbuhan ini tidak digerakkan oleh kantong masyarakat, melainkan belanja pemerintah dan kinerja perdagangan luar negeri.Dengan kata lain, mesin ekonomi masih menyala, tetapi bensinnya disuplai negara. Maka muncul pertanyaan penting: apakah pertumbuhan 5,04 persen ini benar-benar menunjukkan pemulihan, atau sekadar pertumbuhan berbasis stimulus?BPS mencatat pertumbuhan 5,04 persen ini didorong oleh dua aktor: belanja pemerintah dan kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga justru menunjukkan perlambatan.Ini membuat pertumbuhan terlihat seperti mobil yang melaju, tetapi dengan bahan bakar pinjaman. Ketika negara menjadi pembeli terbesar, pasar domestik sebenarnya belum sepenuhnya pulih.Dalam teori ekonomi makro, Keynes (1936) menjelaskan bahwa pemerintah memang harus masuk ketika konsumsi melemah.Baca juga: Purbaya di Pusaran Komunikasi KekuasaanNamun, bahkan Keynes tidak pernah membayangkan pemerintah menjadi “pemain utama” dalam jangka panjang.Negara seharusnya perintang badai, bukan mesin utama perdagangan. Jika konsumsi rumah tangga—yang menyumbang lebih dari 50 persen PDB—melemah, maka pertumbuhan ini punya fondasi yang rapuh.Di lapangan, masyarakat merasakan realita yang berbeda dengan angka statistik: harga pangan fluktuatif, cicilan kendaraan dan rumah semakin mahal karena bunga tetap, sementara pendapatan tumbuh tidak secepat biaya hidup.Inilah yang dikenal dalam teori permintaan sebagai purchasing power erosion—daya beli tergerus, meski ekonomi mengaku tumbuh.Jadi wajar jika masyarakat bertanya: ekonomi tumbuh, tapi siapa yang merasakan?Belanja pemerintah adalah pendorong utama kuartal III. Infrastruktur, bansos, belanja modal—semuanya menjadi “oksigen” bagi perekonomian.Secara teori, fiscal multiplier menjelaskan bahwa belanja pemerintah bisa menciptakan output berlipat, terutama di sektor padat karya.Namun, multiplier hanya bekerja kuat ketika ekonomi berputar. Sementara jika masyarakat menahan belanja, maka efek dorong fiskal bisa berhenti di satu putaran.


(prf/ega)