JAKARTA, – Sejumlah warga menolak wacana pemerintah yang akan membatasi game online sebagai respons atas peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta.Sultan (21), salah satu warga yang aktif bermain Mobile Legends dan Free Fire, menilai game online selama ini menjadi sarana hiburan yang sehat.“Kami main bukan karena mau ngelakuin hal negatif juga sebenarnya, tapi ke arah hiburan aja sih kalau kami habis capek, kerja, atau berkegiatan,” kata Sultan kepada Kompas.com, Jumat .Menurut dia, bermain game membantu meredakan stres, membuka peluang berkenalan dengan orang baru, hingga melatih fokus dan kerja sama tim.Baca juga: Warga Minta Pembatasan Game Online Pakai Sistem Usia ala BioskopPandangan serupa diungkapkan Rayhan (24). Ia menyebut game online kini bahkan membuka peluang di bidang e-sport. Selain rekreasi dan interaksi sosial, ada kesempatan meraih penghasilan dari kompetisi atau jual beli akun.“Kadang untuk beberapa hal kan bisa menghasilkan duit juga dari mungkin ikut-ikut turnamen game online atau jual beli akun game,” ujarnya.Anshary (27), pemain aktif Mobile Legends dan PUBG, menilai wacana pembatasan game online tidak berkaitan dengan hasil penyelidikan polisi terkait ledakan. Menurut dia, pemerintah justru terkesan menyudutkan permainan daring."Karena yang perlu dievaluasi pascakejadian di SMA 72 itu bimbingan orangtuanya dan guru," ungkap Anshary.Sebelumnya, anak berhadapan dengan hukum (ABH) didapati merakit bom hingga meledak di sekolah.Polisi menyebutkan, tindakan itu dipicu dorongan emosional dan rasa keterasingan pelaku. Ia juga mengakses dark web dan mengikuti komunitas ekstrem yang mengagungkan kekerasan.Berkaca pada temuan itu, Anshary menilai solusi pemerintah seharusnya diarahkan pada pengawasan komunitas ekstrem daring, bukan game online.Baca juga: Warga Nilai Kekerasan di Game Tak Langsung Membentuk Perilaku Pemain"Terus dia (pelaku) menemukan dunianya di komunitas ekstrem di media sosial. Nah, lebih baik pemerintah concern melakukan pembatasan pada komunitas ekstremis itu," ujarnya.Senada, Anto (25) menilai pemerintah tampak tergesa menetapkan game sebagai faktor yang salah."Gue ngerasanya pemerintah tuh langsung apa-apa ke game online (yang dinilai salah), jadi bukan soal setuju atau enggak (soal game dibatasi) tapi ya seharusnya penuh pertimbangan," jelas Anto.Anshary mengusulkan pembatasan berdasarkan usia untuk game tertentu, terutama yang bertema perang seperti PUBG atau Call of Duty. Menurut dia, kebijakan serupa klasifikasi film dapat diterapkan agar tak berdampak pada pemain dewasa.
(prf/ega)
Gelombang Penolakan Warga terhadap Pembatasan Game Online Imbas Ledakan SMAN 72 Jakarta
2026-01-12 05:28:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:48
| 2026-01-12 05:22
| 2026-01-12 04:31
| 2026-01-12 04:29
| 2026-01-12 04:22










































