Kronologi Lengkap Hilangnya Alvaro hingga Ditemukan Tinggal Kerangka di Bogor

2026-02-04 10:26:57
Kronologi Lengkap Hilangnya Alvaro hingga Ditemukan Tinggal Kerangka di Bogor
- Polda Metro Jaya mengungkap kronologi lengkap kematian Alvaro Kiano Nugroho (6) atau AKN, bocah yang hilang dari Masjid Jami Al Muflihun, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada 6 Maret 2025.Anak tersebut diduga tewas dibekap ayah tirinya, Alex Iskandar (AI), yang kemudian menyimpan jenazahnya selama tiga hari sebelum membuangnya ke wilayah Tenjo, Kabupaten Bogor.Kasus ini menjadi sorotan publik karena dugaan pembunuhan anak, penculikan, dan penyembunyian jenazah yang dilakukan secara terencana.Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan menyampaikan kronologi lengkap berdasarkan pengakuan tersangka, pemeriksaan saksi, serta temuan kerangka manusia yang diduga kuat merupakan Alvaro.Baca juga: Delapan Bulan Misteri Alvaro Kiano Terungkap: Diculik dan Dihabisi Ayah TiriPada Kamis, 6 Maret 2025, Alvaro terakhir terlihat di Masjid Jami Al Muflihun, Bintaro, Pesanggrahan. Hari itu, ia menemani neneknya berobat di RSUD Pesanggrahan. Sepulangnya, ia meminta dibelikan susu kepada kakeknya, Tugimin (71).“Terus saya bilang, ‘Dek, kan puasa.’ ‘Puasa mah anak kecil setengah hari boleh, Pak,’” kata Tugimin .Menjelang azan Ashar, Alvaro bergegas ke masjid tanpa berpamitan. Saat menjelang Maghrib, seorang pria yang mengaku ayahnya datang ke masjid mencari Alvaro.Marbot masjid sempat mengarahkan pria tersebut ke lantai atas, tempat Alvaro biasa mengaji. Setelah itu marbot tak lagi memperhatikan gerak-gerik pria tersebut karena fokus menyiapkan takjil.Ketika malam tiba, Alvaro tidak kembali ke rumah. Tugimin baru menyadari cucunya hilang sekitar pukul 21.30 WIB.“Kok cucu saya belum pulang? Ke mana?” ujarnya.Ia segera melapor ke Polsek Pesanggrahan, kemudian diarahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/1186/B/III/2025/PMJ/Res Jaksel.Baca juga: Polisi Tetap Dalami Kematian Alvaro meski Pelaku Tewas Bunuh DiriPolisi melakukan pencarian besar-besaran, termasuk membagikan poster orang hilang. Informasi masyarakat dari wilayah Cilegon, Batam, hingga Kepulauan Riau ditindaklanjuti dengan menurunkan tim.Namun penyelidikan terkendala karena rekaman CCTV tidak tersimpan.“Bukan belum ada CCTV, tapi per hari terhapus dan tidak tersimpan,” ujar Kapolsek Pesanggrahan AKP Seala .Kesaksian anak-anak di lingkungan rumah menjadi petunjuk penting. Polisi menunjukkan foto beberapa orang kepada mereka.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-04 10:57