JAKARTA, – Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2026 kembali menuai penolakan dari kalangan buruh.Di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup di Ibu Kota, tambahan upah dinilai belum cukup memberi ruang bernapas bagi pekerja.Suara keberatan itu mencuat dalam aksi unjuk rasa buruh yang digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Senin .Mereka memprotes penetapan UMP DKI Jakarta 2026 sebesar Rp 5,73 juta yang dianggap masih jauh dari kebutuhan riil hidup di Jakarta.Baca juga: Suara-suara Buruh Menentang UMP Jakarta 2026 Rp 5,7 Juta...Adul (37), buruh di perusahaan logistik kawasan Cakung, Jakarta Timur, menyebut besaran UMP tersebut tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan.Menurutnya, tingginya biaya hidup membuat kenaikan upah hanya numpang lewat."Kalau dilihat angkanya doang mungkin gede. Tapi namanya di Jakarta mah lewat doang itu," kata Adul saat ditemui Kompas.com di sela-sela demonstrasi.Ia menuturkan, kenaikan harga kebutuhan pokok kerap terjadi lebih dulu sebelum penyesuaian upah.Akibatnya, tambahan gaji dari UMP baru cepat terkikis."Lah harga beras aja naik mulu, telur, minyak, cabai, semuanya kan," keluh Adul.Tekanan ekonomi kian terasa dengan rencana kenaikan biaya tempat tinggal yang harus ia hadapi tahun depan.Pengeluaran rutin lain, seperti listrik, kebutuhan anak, hingga transportasi, juga terus bertambah.Baca juga: Segini Besaran UMP Jakarta 2026 yang Dituntut Buruh"Kontrakan saya tahun depan udah bilang mau naik sewa Rp 200.000 per bulan. Belum token (listrik), kuota buat anak, bensin motor coba itu," tambahnya.Meski sudah mencoba menutup kebutuhan dengan mengambil lembur, Adul mengaku penghasilannya tetap tak cukup menahan laju pengeluaran."Ujung-ujungnya kalau gaji doang mah paling tanggal tua juga udah kering lagi," ucapnya.
(prf/ega)
Ketika UMP Naik tapi Hidup di Jakarta Tetap Berat bagi Buruh...
2026-01-12 02:20:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:05
| 2026-01-12 01:38
| 2026-01-12 01:13










































