Indonesia Masih Bersiap, Ini Daftar Negara dengan Redenominasi Terbesar

2026-02-04 18:19:55
Indonesia Masih Bersiap, Ini Daftar Negara dengan Redenominasi Terbesar
- Pemerintah memiliki agenda redenominasi rupiah di masa depan.  Setelah kabar redenominasi Rp 1.000 menjadi Rp 1 mencuat di media sosial baru-baru ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya menjelaskan bahwa rencana perubahan mata uang itu tidak akan diterapkan segera. "Itu kebijakan bank sentral dan dia nanti akan diterapkan sesuai dengan kebutuhan pada waktunya tapi enggak sekarang enggak tahun depan," jelas Purbaya, dikutip dari Kompas.com, Selasa . Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan ini berada di tangan Bank Indonesia. Sebelumnya, publik mengetahui rencana redenominasi ini melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2025-2029. Disebutkan bahwa Pemerintah memiliki target agar RUU Redenominasi tuntas pada tahun 2027. Aturan tersebut ditandatangani dengan tujuan mendorong efisiensi perekonomian. Sebelum Indonesia, beberapa negara sudah pernah melakukan redenominasi mata uang karena mengalami kesulitan ekonomi secara nasional. Bahkan di beberapa negara, harga naik begitu cepat sampai uang berlembar-lembar pun tak cukup untuk membeli beli roti.Lantas, mana saja negara yang pernah melakukan redenominasi besar-besaran? Berikut hasil penelusuran Kompas.com mengenai negara-negara dengan redenominasi terbesar.Baca juga: Redenominasi Rupiah Disiapkan, Ekonom Jelaskan Dampaknya bagi MasyarakatSetelah Perang Dunia II, Hongaria mengalami inflasi yang luar biasa. Harga bisa berubah beberapa kali dalam sehari, dan gaji dibayar dua kali supaya tidak keburu tak bernilai.Dikutip dari Britannica, pemerintah Hongaria akhirnya mengganti mata uang peng? menjadi forint dengan rasio 400 kuintiliun peng? setara 1 forint. Dengan demikian, ada 20 nol dihapus dari nilai mata uang yang ada. Meskipun tergolong ekstrem, langkah ini berhasil karena dibarengi perbaikan anggaran dan bantuan luar negeri. Setelah itu, ekonomi Hongaria mulai stabil dan rakyat bisa kembali bertransaksi normal.Baca juga: Redenominasi Rupiah Dinilai Belum Perlu, Ekonom Ingatkan Dampak yang Bisa DitimbulkanPuluhan tahun kemudian, Zimbabwe mengalami nasib serupa. Inflasi di sana mencapai 500 miliar persen, harga roti bisa sampai triliunan dolar.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-04 18:22