Alam Minangkabau dan Guru yang Marah

2026-01-14 03:49:43
Alam Minangkabau dan Guru yang Marah
ALAM di Sumatera Barat kembali berbicara dengan suara yang keras dan menyakitkan. Namun, suara itu tidak lahir di ruang hampa alamiah; ia berkelindan erat dengan struktur ekonomi politik yang membentuk cara manusia memperlakukan ruang hidupnya.Banjir bandang, longsor, dan krisis ekologis berulang bukan lagi peristiwa musiman, melainkan konsekuensi logis dari pilihan pembangunan yang menempatkan pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal di atas keselamatan ekologis.Sungai meluap bukan hanya karena hujan, tetapi karena hulu kehilangan penyangga akibat pembukaan lahan, izin ekstraktif, dan tata ruang yang tunduk pada kepentingan investasi.Lereng runtuh bukan semata karena curah hujan ekstrem, tetapi karena tanah telah kehilangan haknya untuk tetap utuh setelah dipaksa menanggung beban ekonomi yang melampaui daya dukungnya.Di tengah tragedi ini, korban terus bertambah, rumah hancur, dan ekonomi rakyat lumpuh—sementara penjelasan resmi kerap berhenti pada istilah teknokratis seperti “cuaca ekstrem”, seolah bencana terlepas dari keputusan politik yang melahirkannya.Baca juga: Banjir Sumatera: Ketika Data Tidak Menyelamatkan NyawaIroni terbesar dari bencana ekologis ini adalah lokasinya: Minangkabau—tanah yang mewariskan falsafah luhur "Alam Takambang Jadi Guru".Pandangan hidup yang menempatkan alam sebagai sumber pengetahuan, penuntun moral, dan penentu batas bagi aktivitas manusia.Namun hari ini, guru itu tampak marah. Bukan karena dilawan secara terbuka, melainkan karena disingkirkan secara sistematis dari meja perencanaan pembangunan.Falsafah yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan publik dikalahkan oleh logika ekonomi politik ekstraktif—logika yang memuja investasi, memprivatisasi keuntungan, dan mensosialisasikan risiko ekologis kepada masyarakat.Di titik inilah kemarahan alam menemukan maknanya sebagai kritik paling jujur atas negara dan elite lokal yang gagal belajar dari guru yang mereka banggakan sendiri."Alam Takambang Jadi Guru" bukan sekadar pepatah adat atau ornamen kebudayaan. Ia adalah epistemologi—cara orang Minangkabau membaca dunia.Alam dipahami sebagai sistem pembelajaran yang mengajarkan keseimbangan, siklus, dan batas. Dalam kerangka ini, manusia bukan penguasa mutlak, melainkan murid yang wajib belajar, menahan diri, dan patuh pada hukum alam.Namun, dalam praktik pembangunan kontemporer, falsafah ini mengalami pengosongan makna.Baca juga: Saat Negara Minta Dipahami: Komunikasi Kekuasaan di Tengah BencanaIa dipajang dalam festival budaya, dikutip dalam pidato seremonial, tetapi absen dalam dokumen perencanaan ruang, kebijakan perizinan, dan strategi pembangunan daerah.Alam direduksi menjadi komoditas ekonomi, sementara falsafah lokal direduksi menjadi identitas simbolik. Ketika nilai dipisahkan dari kebijakan, maka yang tersisa hanyalah retorika tanpa keberanian etis.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-01-14 02:58