Istri Hanyut Saat Banjir Aceh Tamiang, Mulyono: Semangat Hidup Saya Sekarang Cuma Anak-anak

2026-01-12 06:09:52
Istri Hanyut Saat Banjir Aceh Tamiang, Mulyono: Semangat Hidup Saya Sekarang Cuma Anak-anak
ACEH TAMIANG, - Seorang anak perempuan berlari keluar dari tenda pengungsian di wilayah Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin . Di tangannya terdapat dua roti dan sekotak susu kemasan yang baru saja ia terima dari relawan.Rambutnya dikuncir sederhana, mengenakan baju merah muda bergambar perempuan berkerudung. Ia tersenyum, meski bengkak di bawah matanya masih tampak jelas. Senyum itu tak sepenuhnya mampu menutupi kesedihan karena kehilangan ibu akibat banjir besar di Aceh Tamiang.Tak lama kemudian, adiknya menyusul. Bocah laki-laki itu juga membawa dua roti dan sekotak susu untuk diberikan kepada ayah mereka.“Dapat susu sama roti dari main sama Om Komeng,” ucap Naufal, sebelum kembali berlarian bersama anak-anak lain di area tenda pengungsian.Baca juga: Duka yang Tak Pernah Usai Bagi Mulyono Pascabanjir Aceh Tamiang...Di balik pemandangan itu, Mulyono hanya memandang pelan sambil sesekali tersenyum. Kedua anak itulah yang kini menjadi penyemangatnya untuk terus bertahan hidup setelah sang istri hanyut dan meninggal dunia dalam banjir.“Anak-anak yang jadi penyemangat sekarang. Memang anak-anak. Karena saya kan memang waktu istri hanyut, saya enggak semangat,” kata Mulyono saat ditemui Kompas.com di posko pengungsian, Senin .“Saya sadar, bahwasanya saya disuruh selamat untuk jaga anak-anak,” lanjutnya.Banjir datang dengan cepat dan meninggalkan Mulyono dalam situasi terjepit. Ia bersama keluarga terjebak selama dua hari dua malam di atas seng rumah tanpa makanan dan minuman, sambil menunggu evakuasi tim SAR yang tak kunjung tiba.“Kami capek nunggu tim SAR. Katanya balik tim SAR, tapi sampai dua hari enggak balik-balik,” ucap Mulyono.Kedua anak Mulyono lebih dulu dievakuasi bersama mertuanya. Namun, ia bersama sang istri masih tertahan dan harus menunggu jemputan berikutnya.“Kan kami ramai keluarga, dua trip. Terus katanya tim SAR balik lagi, rupanya enggak balik-balik,” ungkapnya.Baca juga: 3 Pekan Berlalu, Permukiman Warga Aceh Tamiang Masih Gelap Gulita dan Dipenuhi LumpurKarena tak kunjung mendapat bantuan, kekhawatiran sang istri untuk bertemu anak-anak membuat mereka nekat menyelamatkan diri dengan cara seadanya. Sebuah kulkas yang mengambang digunakan sebagai pelampung sekaligus perahu darurat.“Jadi mau enggak mau saya beranikan pakai kulkas. Nganyut kami bertiga pegang kulkas. Anak kecil itu ditaruh di dalam kulkas, kulkasnya kami buka,” tutur Mulyono.Namun upaya itu berujung petaka. Di tengah perjalanan, kulkas tersebut pecah dan mereka terpisah satu sama lain.“Sampai di depan kantor bupati, pecah kulkasnya, terpisah semua,” katanya.


(prf/ega)