Bank Dunia Soroti Besarnya Bunga Utang Indonesia, Serap Pendapatan Negara

2026-02-02 03:11:01
Bank Dunia Soroti Besarnya Bunga Utang Indonesia, Serap Pendapatan Negara
-Bank Dunia menilai beban pembayaran bunga utang Indonesia masih menyerap porsi besar pendapatan negara. Kondisi itu terjadi meski pembiayaan tergolong longgar dan biaya pinjaman berhasil ditekan.Penilaian tersebut tertuang dalam laporan Bank Dunia berjudul Fondasi Digital untuk Pertumbuhan edisi Desember 2025. Laporan itu mencatat rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan mencapai 20,5 persen hingga Oktober, di tengah upaya pemerintah menjaga kehati-hatian fiskal.Bank Dunia mencermati pemerintah telah menyalurkan dukungan fiskal secara terarah dan konsisten pada prinsip kehati-hatian. Dampak kebijakan tersebut belum optimal akibat pendapatan negara yang melemah.Baca juga: Purbaya Santai Tanggapi Proyeksi Bank Dunia soal Defisit APBN: Sering MelesetTekanan fiskal tercermin dari defisit anggaran yang meningkat. Defisit fiskal naik dari 1,4 persen terhadap produk domestik bruto pada Oktober 2024 menjadi 2,0 persen PDB pada Oktober 2025.Penurunan pendapatan dipengaruhi beberapa faktor. Bank Dunia mencatat pelemahan harga komoditas, percepatan pengembalian pajak, serta pengalihan dividen badan usaha milik negara ke Danantara turut menekan penerimaan negara.Meski demikian, pemerintah tetap meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai 0,5 persen PDB. Stimulus tersebut diarahkan untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penciptaan lapangan kerja.Tambahan belanja itu ditopang oleh efisiensi anggaran serta realisasi belanja yang lebih rendah pada sejumlah program prioritas. Langkah ini memberi ruang fiskal tanpa menambah tekanan pembiayaan secara signifikan.Bank Dunia menilai kondisi pembiayaan yang akomodatif berhasil menjaga biaya pinjaman tetap rendah. Namun, rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan tetap tinggi karena basis penerimaan negara melemah.Pembayaran bunga bersifat tetap dan wajib dipenuhi. Situasi ini membuat beban bunga menyerap porsi pendapatan yang lebih besar meski biaya utang tidak melonjak tajam.“Kondisi pembiayaan yang akomodatif berhasil menekan biaya pinjaman, tetapi rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan tetap tinggi yakni 20,5% dari awal tahun hingga Oktober,” tulis Bank Dunia.Baca juga: Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen pada 2025–2026Ke depan, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026, pemerintah menargetkan defisit sebesar 2,68 persen PDB. Target tersebut disertai sasaran pendapatan yang dinilai cukup ambisius.Bank Dunia menekankan pencapaian target itu menuntut penguatan administrasi dan kebijakan perpajakan. Upaya tersebut dibutuhkan di tengah harga komoditas yang kurang menguntungkan agar tersedia ruang fiskal bagi belanja yang mendorong pertumbuhan ekonomi.Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Bank Dunia Soroti Rasio Bunga Utang RI Tinggi Meski Biaya Pinjaman Rendah


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-02 03:07