Orangtua Ahmed Al Ahmed Sebut Putranya Pahlawan dalam Serangan di Sydney

2026-02-02 10:40:58
Orangtua Ahmed Al Ahmed Sebut Putranya Pahlawan dalam Serangan di Sydney
Orangtua dari pemilik toko buah yang berhasil melumpuhkan dan melucuti senjata salah satu penyerang di Pantai Bondi menyebut putra mereka sebagai pahlawan.Rekaman video menunjukkan Ahmed Al Ahmed, 43 tahun, berlari ke arah salah satu penembak dari belakang sebelum merebut senjata senapan dari penembak.Rekaman ini sudah disiarkan oleh media di seluruh dunia dan telah dilihat lebih dari 22 juta kali di media sosial.Kemudian terlihat ada orang kedua berlari ke arah penembak yang sudah tidak bersenjata dan melemparkan sebuah benda ke arahnya. Saat penembak mulai pergi, keduanya tetap bersembunyi di balik pohon.Orangtua Ahmed mengatakan kepada ABC jika putranya ditembak empat hingga lima kali di bahunya, dengan beberapa peluru masih bersarang di dalam tubuhnya.Mohamed Fateh Al Ahmed dan Malakeh Hasan Al Ahmed mengatakan mereka baru tiba di Sydney dari Suriah beberapa bulan yang lalu dan telah terpisah dari putra mereka sejak ia datang ke Australia pada tahun 2006.Ibu dari Ahmed mengatakan dirinya "memukul-mukul badannya sendiri dan menangis" ketika menerima telepon kalau putranya telah ditembak dalam "kecelakaan.""Dia melihat mereka sekarat, dan orang-orang kehilangan nyawa mereka, dan ketika pria itu [penembak] kehabisan amunisi, dia mengambilnya darinya, tetapi dia terkena tembakan," katanya."Kami berdoa agar Allah menyelamatkannya."Ahmed Al Ahmed sedang minum kopi dengan seorang teman di Bondi ketika mendengar suara tembakan, menurut orang tuanya.Dia melihat salah satu penembak berjongkok di balik pohon, dan ketika amunisinya habis, Ahmed Al Ahmed mendekatinya dari belakang, berhasil merebut senapan dari tangannya."Pada saat yang sama, teman pria bersenjata yang lain berada di jembatan… sepertinya dia membawa senapan panjang atau entahlah, dia mencoba membunuh [Ahmed] dan mengenai bahunya," kata ayahnya.Mereka mengatakan Ahmed, seorang ayah dari dua anak perempuan yang berusia tiga dan enam tahun, akan melakukan apa saja untuk melindungi siapa pun, tanpa memandang latar belakang atau keyakinan mereka."Ketika dia melakukan apa yang dia lakukan, dia tidak memikirkan latar belakang orang-orang yang dia selamatkan, orang-orang yang sekarat di jalan," kata Mohamed."Dia tidak membeda-bedakan antara satu kewarganegaraan dengan yang lain. Terutama di sini di Australia, tidak ada perbedaan antara satu warga negara dengan yang lain."Setidaknya 15 orang tewas ketika Naveed Akram, 24 tahun, dan ayahnya Sajid Akram, 50 tahun, melepaskan tembakan ke arah pengunjung Yahudi yang menghadiri festival Hanukkah pada hari Minggu.Usia para korban berkisar dari 10 tahun hingga 87 tahun.Sebanyak 42 orang lainnya dibawa ke rumah sakit dengan kondisi mulai dari stabil hingga kritis.Naveed dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan polisi setelah baku tembak dengan polisi, yang menewaskan ayahnya.Dalam konferensi pers pada hari Senin ini (15/12), Komisaris Polisi Mal Lanyon mengatakan Naveed "kemungkinan" akan menghadapi tuntutan pidana.Komisaris Mal mengatakan banyak nyawa diselamatkan karena tindakan para saksi mata."Saya pikir kita telah melihat dengan sangat jelas dalam rekaman, keberanian para petugas dan warga yang mengambil tindakan dengan sangat cepat," katanya."Peristiwa tersebut sangat kacau dan menakutkan bahkan bagi petugas yang terlatih dengan baik sekali pun."Orangtua Ahmed masih menunggu para ahli bedah untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu putra mereka, beberapa di antaranya diduga menembus jauh ke dalam tulang.Orangtua dari Ahmed mengatakan khawatirannya karena usia mereka, mereka tidak akan mampu membantu putra mereka dalam pemulihannya.Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah Australia untuk membantu kedua saudara laki-lakinya, satu dari Jerman dan yang lainnya dari Rusia, untuk melakukan perjalanan ke Australia untuk membantu mereka."Dia membutuhkan bantuan sekarang karena dia sekarang menjadi penyandang disabilitas," kata Malakeh, ibu dari Ahmed."Kami membutuhkan anak-anak kami yang lain untuk datang ke sini untuk membantu."Penggalangan dana yang dibuat atas nama Ahmed Al Ahmed sejauh ini telah mengumpulkan A$550.000 dalam 12 jam.Bill Ackman, seorang bankir investasi Yahudi yang bernilai lebih dari A$9,5 miliar, juga sudah mempromosikan penggalangan dana tersebut di media sosialnya.Lihat Video 'Momen Heroik Ahmed Rebut Senjata Pelaku Penembakan di Australia':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 10:05