Amartha Sudah Salurkan Beasiswa Rp 5,1 M, Terbanyak untuk Lanjut S1

2026-01-17 06:10:52
Amartha Sudah Salurkan Beasiswa Rp 5,1 M, Terbanyak untuk Lanjut S1
JAKARTA,  - Perusahaan platform teknologi keuangan atau fintech Amartha, telah mengucurkan beasiswa sebesar Rp 5,1 miliar untuk membantu pendidikan pelajar di berbagai daerah. Founder sekaligus CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, penyaluran beasiswa itu dikucurkan sejak 2022 hingga 2025. “Kita sekarang sudah menyalurkan sekitar Rp 5,1 miliaran dan dari 3 tahun yang lalu,” kata Taufan dalam acara Ruang Lestari, Amartha Impact Festival 2025 di Cikini, Jakarta, Sabtu . Baca juga: Asa Penjahit Kebaya dari Solo, Jadi Mitra Amartha Kembangkan Usaha Pasca Pandemi Taufan mengatakan, pemberian beasiswa ini merupakan salah satu bentuk investasi Amartha untuk membantu masyarakat memperbaiki kondisi ekonomi. Menurutnya, pemberian akses finansial (pinjaman modal) yang mudah hanya satu dari berbagai cara untuk berkontribusi membangun negara. Melalui yayasan Amartha.org, pihaknya berupaya melihat makna investasi lebih luas, bahwa tidak semua investasi harus berwujud benda. Di antara investasi itu menurutnya berbentuk bantuan dukungan pendidikan serta menjaga lingkungan tetap sehat dan berkelanjutan. “Mustahil gitu kalau kita ngomongin ekonomi lebih maju, ekonomi lebih sejahtera, desa lebih maju, kalau misalnya pendidikannya tertinggal, masyarakatnya juga secara lingkungan juga enggak sehat,” ujar Taufan. Baca juga: Amartha Sebut Ibu-ibu UMKM Sosok Penggerak Perubahan di Desa Pengusaha itu mengungkapkan, sejak meluncurkan program Beasiswa Amartha Cendekia, Amartha STEAM Scholarship, dan Amartha Frontier Scholarship sejak 2022. Beasiswa itu sudah menjangkau 817 pelajar SMA, mahasiswa strata 1 (S1), dan sebagian kecil mahasiswa program magister (S2). Sejauh ini, seleksi beasiswa itu telah diikuti 40 ribu pelajar dengan jumlah yang diterima 817 orang, “Jadi sekitar 2 persen conversion, jadi persaingannya cukup ketat untuk kita benar-benar menyeleksi,” kata dia. Baca juga: Amartha Dapat Suntikan Dana Rp 1,49 Triliun dari Community Investment Management Menurut Taufan, lebih dari 90 persen beasiswa itu diberikan untuk pelajar SMA di pedesaan agar bisa melanjutkan ke jenjang S1. Ia menyebut, kemampuan masyarakat Indonesia, terutama di luar Jawa dan kota besar untuk mengakses pendidikan tidak ideal sebagaimana di luar negeri dan kota-kota besar di tanah air. “Mudah-mudahan impact buat lintas generasinya, bagaimana impactnya bisa memutus rantai kemiskinan di level keluarganya mereka dengan anaknya yang akhirnya bisa masuk dari SMA ke S1,” kata Taufan. Pada forum yang sama, penerima beasiswa dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terhubung via Zoom, Sania mengaku mendapatkan beasiswa itu untuk mengambil jurusan Matematika di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. “Fakultas Sains dan Teknologi,” kata Sania.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-17 04:55