Penulis: Cathrin Schaer/DW Indonesia - Para ahli menyebut ada "revolusi senyap" yang sedang berlangsung di Timur Tengah.Ini bukan revolusi yang melibatkan unjuk rasa di jalanan atau tumbangnya pemerintahan, melainkan perubahan yang terjadi secara diam-diam di dalam rumah tangga. Revolusi ini berkaitan dengan menurunnya tingkat kesuburan.Hampir di seluruh negara Timur Tengah, jumlah anak yang dilahirkan perempuan selama usia suburnya telah menurun drastis dalam dua hingga tiga dekade terakhir.Tingkat Kesuburan Total (TFR), yang merujuk pada jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan antara usia 15 dan 49 tahun, telah berkurang lebih dari setengahnya di Timur Tengah sejak tahun 1960-an.Perempuan di wilayah ini dulu rata-rata melahirkan sekitar tujuh anak, tetapi pada awal 2010-an, angka tersebut turun menjadi tiga.Baca juga: Banjir Bandang Terjang Jeddah Arab Saudi, Jalanan Berubah Bak SungaiPenurunan tingkat kesuburan merupakan fenomena global. Namun, pada tahun 2016, para peneliti melaporkan bahwa Timur Tengah mengalami penurunan tingkat kesuburan terbesar di dunia dalam 30 tahun terakhir.Selama 10 tahun terakhir, angka-angka tersebut terus menurun. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Middle East Fertility Society pada Oktober tahun lalu menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan tersebut mengalami penurunan TFR antara 3,8 persen hingga 24,3 persen antara tahun 2011 dan 2021, dengan penurunan terbesar terjadi di Yordania, Irak, dan Yaman.Menurut data Bank Dunia, pada tahun 2023, lima dari 22 negara anggota Liga Arab memiliki TFR di bawah 2.1, angka kelahiran per orang yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat populasi dan empat negara lainnya mendekati angka tersebut.Misalnya, Uni Emirat Arab memiliki TFR hanya 1.2, jauh di bawah tingkat penggantian populasi. Angka tersebut bahkan lebih rendah daripada beberapa negara Eropa. Pada tahun 2024, TFR nasional Jerman diperkirakan sebesar 1.38 anak dari setiap perempuan usia subur.Baca juga: Arab Saudi dan Qatar Bakal Terhubung Kereta Cepat, Proyek Direncanakan Selesai 6 TahunMohammed Mahjoub/AFP/Getty Images via DW INDONESIA Dulu punya banyak anak dipandang sebagai cara untuk menjamin masa tua. Kini, di negara-negara kaya minyak, tanggung jawab itu telah beralih kepada negara melalui program jaminan sosial.Para ahli telah mengajukan sejumlah hipotesis mengenai mengapa hal ini terjadi. Hipotesis-hipotesis ini umumnya terbagi menjadi dua kategori yang saling terkait: ekonomi dan politik, atau sosial dan budaya.Kategori pertama mencakup hal-hal seperti perang dan ketidakpastian politik, orang tidak ingin membawa anak ke dunia yang tidak aman.Perubahan ekonomi, termasuk penghapusan subsidi nasional di Mesir dan Yordania, inflasi, atau berkurangnya pekerjaan di sektor publik di negara-negara penghasil minyak, membuat semakin sulit untuk membiayai pernikahan dan anak-anak.Perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan turut menjadi faktor utama bagi pasangan muda di Timur Tengah, yakni kawasan yang mengalami pemanasan lebih cepat dibanding banyak wilayah lainnya.Baca juga: Misteri Kotak Hijau Hadiah dari Arab Saudi untuk Suriah, Bikin Warga Geger
(prf/ega)
Timur Tengah Dilanda Krisis Kelahiran, dari Rata-rata 7 Anak, Kini Jadi Hampir Nol
2026-01-12 07:25:06
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:44
| 2026-01-12 06:42
| 2026-01-12 06:38










































