Nasib Pedagang Pasar Loak Menteng, Pendapatan Turun dan Ditinggal Pembeli

2026-02-01 05:40:50
Nasib Pedagang Pasar Loak Menteng, Pendapatan Turun dan Ditinggal Pembeli
JAKARTA, - Deretan ruko beratap merah bata di sepanjang Pasar Loak, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, masih berdiri rapi seperti puluhan tahun lalu.Namun, di balik penataan yang tertib dan citra kawasan wisata sejarah, denyut ekonomi para pedagang barang antik di tempat ini kian melemah.Sepinya pembeli dalam beberapa tahun terakhir membuat penghasilan pedagang jauh dari kata cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan harian.“Kalau dulu, sebulan bisa dapat keuntungan sampai Rp 6.000.000. Itu murni untung, belum belanja barang lagi,” ujar Asep (64), pedagang barang antik yang ditemui Kompas.com di kiosnya, Senin .Baca juga: Setengah Abad Berdagang, Fauzy Tetap Bertahan di Pasar Loak Jalan Surabaya yang SepiAsep mulai berdagang di Pasar Loak Jalan Surabaya sejak 2020./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Pengunjung di Pasar Loak Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin Meski terbilang pendatang baru dibanding pedagang lama yang sudah berjualan sejak era 1990-an, ia merasakan langsung perubahan drastis kondisi pasar.Menurut Asep, sistem berdagang barang antik sejatinya sederhana. Modal diputar dari satu barang ke barang lain. Namun, roda itu kini sering tersendat.“Sistemnya kan muter. Misalnya modal Rp 300.000 dijual Rp 500.000, untung Rp 200.000. Modalnya diputar lagi buat beli barang lain,” kata dia.Masalahnya, keuntungan yang dulu bisa menopang kehidupan keluarga, kini habis untuk menutup biaya hidup.Penghasilan bersih yang dulu dianggap cukup, tak lagi menyisakan tabungan.“Tapi sekarang keuntungan segitu sudah habis buat biaya. Bulanan, sekolah anak, dapur. Keuntungan Rp 6.000.000 itu sudah habis, enggak sisa,” ujar dia.Baca juga: Jalan Surabaya, Lorong Waktu Barang Antik yang Bertahan di Tengah Sepinya PembeliBahkan, dalam kondisi tertentu, Asep mengaku sering kali harus nombok.“Sekarang ini malah sering nombok. Kadang satu hari untung Rp 350.000, buat nutup hari-hari berikutnya yang kosong. Tutup lubang, gali lubang,” tutur Asep./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Suasana Pasar Loak Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat yang sepi pembeli, Senin Ia mengenang masa ketika pasar masih ramai, dan omzet bisa melonjak tajam.“Pernah dulu, sebulan untung sampai Rp 30.000.000. Sekarang mah boro-boro,” katanya lirih.Sepinya pasar membuat kebiasaan pedagang ikut berubah.Jika dulu mereka bisa santai ngopi dan mengobrol sambil menunggu pembeli, kini pengeluaran ditekan seminimal mungkin.“Sekarang pedagang jarang ngopi, jarang nongkrong. Dulu sambil ngopi, ngobrol, ngerokok. Sekarang nahan pengeluaran,” ujar Asep.Baca juga: Cerita Pedagang Loak Jatinegara Bertahan di Tengah Ketidakpastian dan Persaingan OnlineMeski demikian, kios tetap dibuka setiap hari. Bagi Asep, menutup kios berarti menutup peluang rezeki.“Kita buka tiap hari, enggak ada libur. Siapa tahu besok ada yang beli. Daripada di rumah jenuh,” kata Asep.Tak jauh dari kios Asep, Agus (47) duduk menjaga toko milik orang lain.Statusnya bukan pemilik kios, melainkan penjaga yang mengandalkan pembagian hasil penjualan.“Iya, memang sudah sekitar lima tahunan begini. Sekarang memang sepi,” kata Agus saat ditanya soal kondisi pasar.Ia mengungkapkan, tak semua kios dibuka setiap hari.Banyak pedagang memilih menutup kios karena kelelahan menunggu pembeli yang tak kunjung datang.“Kadang-kadang malas buka. Enggak tiap hari ada penglaris. Capek juga, orang perlu istirahat,” ujar Agus.Baca juga: Pasar Loak Jatinegara Tetap Jadi Buruan Kolektor di Tengah Era DigitalDari pagi hingga menjelang sore, Agus mengaku belum ada satu pun transaksi.“Belum juga. Ini juga sudah mau jam tutup, sudah jam tiga,” kata Agus.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-02-01 05:40