BNPB Catat 3.176 Bencana Alam di Indonesia 2025, Banjir dan Longsor Mendominasi

2026-01-13 07:18:26
BNPB Catat 3.176 Bencana Alam di Indonesia 2025, Banjir dan Longsor Mendominasi
JAKARTA, - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan, terjadi 3.176 bencana alam di Indonesia sepanjang 2025.Ia melanjutkan, bencana hidrometeorologi berupa banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor mendominasi dengan persentase 99,02 persen, sedangkan 0,98 persen lainnya adalah bencana geologi.Baca juga:Suharyanto menjelaskan, tren bencana di Indonesia periode 2021-2025 bersifat fluktuatif. Meski jumlah kejadian pada tahun 2022 dan tahun 2024 sempat menembus angka 3.000, BNPB berupaya menekan dampak bencana, terutama korban jiwa dan kerusakan infrastruktur."Ini sebetulnya sudah turun bagus, tetapi ketika 25 dan 26 November kemarin terjadi siklon senyar di tiga provinsi di Sumatera, tentu saja ini grafiknya naik lagi karena bertambah 1.100 lebih korban jiwa, yang hilang, dan luka-luka," kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin .Banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga mengakibatkan kerusakan permukiman dan infrastruktur, dengan estimasi kerugian mencapai triliunan rupiah.Menurut Suharyanto, kondisi tersebut menunjukkan menurunkan risiko dan dampak bencana bukan perkara mudah."Karena kadang-kadang terjadi bencana yang sifatnya tiba-tiba yang tidak bisa diprediksi dengan mencatat data atau kejadian di tahun-tahun berikutnya," tutur dia.Baca juga: Kemenhut Bersih-bersih Gelondongan Kayu Terbawa Arus Banjir di Sumatera ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja Foto udara kondisi sekitar jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis . Warga masih melintasi jembatan darurat dari batang kayu akibat jalan dan jembatan penghubung antara Kabupaten Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Tengah-Sibolga serta Medan putus diterjang banjir bandang pada Selasa . Pemerintah daerah wajib siap siaga terhadap bencana hidrometeorologi di tengah musim hujan seperti saat ini.Namun, Suharyanto menyoroti belum maksimalnya kapasitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)."Saya, keluarga besar BNPB, menyarankan kepada Bapak Wakil Menteri Dalam Negeri dengan melihat, mencatat, apalagi terjadinya bencana besar di Sumatera ke depan barangkali salah satunya adalah meningkatkan kemampuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah," jelas SuharyantoBaca juga: Walhi Sebut Banjir Sumatera Bencana yang Direncanakan, Soroti Izin Tambang dan SawitDia lalu mengusulkan agar kepala BPBD tidak lagi dirangkap oleh sekretaris daerah. Tujuannya adalah memastikan kewenangan dan kecepatan pengambilan keputusan saat masa tanggap darurat bencana.Di samping itu, BNPB meminta daerah meningkatkan mitigasi, kesiapsiagaan, serta memastikan jalur evakuasi dan transportasi berfungsi baik.Hal itu khususnya di daerah rawan bencana yakni Sumatera, Kalimantan Selatan, dan sebagian Jawa Barat.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-13 06:22