Nobel Perdamaian dan Bayangan Masa Depan Demokrasi di Venezuela

2026-01-12 07:30:57
Nobel Perdamaian dan Bayangan Masa Depan Demokrasi di Venezuela
KOMITE Nobel Perdamaian Norwegia telah menyerahkan penghargaan kepada pemenang Laureate 2025, María Corina Machado (58 tahun) yang diwakili putrinya, Ana Corina Sosa, di City Hall, Oslo, Rabu .Cerita panjang Machado tentang tindakan represif dan militeristik pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela sebagaimana disampaikan Sosa dalam pidatonya yang memukau di hadapan Raja Norwegia dan hadirin, meneguhkan perjuangan Machado selama ini menuju demokrasi di Venezuela.Kediktatoran pemerintahan Nicolás Maduro yang disampaikan putri Machado penuh pilu dan bayangan kebebasan sebagai hak setiap warga negara, seperti memperlihatkan kepada dunia bahwa penghargaan Nobel Perdamaian kepada tokoh oposisi itu sebagai kemenangan moral bagi masa depan demokarsi di Venezuela.Namun, penghargaan tersebut juga bisa menimbulkan ketegangan baru di Venezuela, karena pemerintahan Maduro akan memperketat aktivitas pergerakan politik oposisi.Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya rumit dan kompleks. Apakah penghargaan Nobel Perdamaian untuk oposisi dan tekanan baru dari Donald Trump benar-benar menggerakkan Venezuela menuju demokrasi—atau justru memperkuat cengkeraman otoritarianisme Maduro?Dengan menyisihkan setidaknya 337 kandidat dari 244 individu dan 94 organisasi, Maria Corina Machado menjadi pilihan Komite Nobel Perdamaian (Nobel Peace Prize) 2025. Seorang perempuan, pemimpin oposisi Venezuela yang sangat berani.Baca juga: Darurat Medsos Anak: Perlukah Indonesia Mengekor Australia?Penghargaan Nobel Perdamaian diberikan kepada Machado atas upayanya mempromosikan hak-hak demokrasi dan perjuangannya untuk mencapai transisi dari kediktatoran ke demokrasi di Venezuela.Maria Corina Machado mengungguli nominator lainnya, termasuk Donald Trump yang santer diberitakan media sebagai kandidat kuat peraih Nobel Perdamaian 2025 atas perannya dalam upaya perdamain di berbagai negara, utamanya perdamaian Israel-Hamas, yang diinisiasi Trump beberapa jam sebelum pengumuman Nobel Perdamaian, 10 Oktober 2025.Setelah diumumkan sebagai peraih penghargaan bergensi tersebut, sebagai oposan politik Maduro, Machado mendapat dukungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.Seperti gayung bersambut, Machado "menghadiahkan" penghargaan tersebut kepada Trump. Di sini aliansi kekuatan internal Venezuela yang diwakili Machado dan kekuatan eksternal yang diwakili Trump semakin intens.Beberapa minggu setelah pengumuman Nobel Perdamaian, Pemerintah AS menetapkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan sekutunya sebagai anggota organisasi teroris asing, dikaitkan dengan "Cartel de los Soles," (Kartel Matahari) - kelompok jaringan perdagangan Narkotika yang diduga dipimpin oleh presiden Nicolás Maduro, dan tokoh-tokoh senior dalam pemerintahannya.Walaupun hal ini diperdebatkan, dengan memberi label sebagai organisasi teroris internasional, semakin memberi wewenang yang lebih luas bagi militer AS untuk menargetkan dan membubarkannya, termasuk menumbangkan pemerintahan Presiden Maduro.Aliansi Machado dengan Trump tentu bermakna politis-strategis. Machado yang giat melakukan gerakan oposisi dari dalam melawan pemerintahan Maduro yang dinilai represif dan militeristik, akan bersama Trump yang juga gencar melakukan tekanan politik terhadap negara-negara sosialis di kawasan seperti Kuba dan Venezuela.Bagi AS-Trump, beraliansi politik dengan Machado sangat penting dan lebih strategis dibandingkan dengan kelompok oposisi lainnya di Venezuela seperti Edmundo Gonzales, dll.Sebagai oposan tulen rezim Hugo Chávez dan Nicolás Maduro, Machado telah memainkan peran sentral dalam gerakan politik pro-demokrasi di negara itu selama lebih dari dua dekade.


(prf/ega)