KPK Serahkan Rp 883 Miliar dan Enam Efek ke Taspen: Recovery Aset Ditargetkan Capai Rp1 Triliun

2026-02-04 01:24:00
KPK Serahkan Rp 883 Miliar dan Enam Efek ke Taspen: Recovery Aset Ditargetkan Capai Rp1 Triliun
Jakarta Komis Pemberantasan Korupsi (KPK) tak hanya menyerahkan uang uang Rp 883 milliar ke PT Taspen, di mana merupakan aset yang berhasil dirampas dari investasi fiktif eks Dirut PT Taspen, Antoius Kosasih bersama Direktur PT IIM (2016-2024) Ekiawan Heri Primaryanto.Direktur Utama PT Taspen yang baru, Ronny Hanityo Apian mengatakan, ada sejumlah surat berharga yang juga diserahkan lembaga antirasuah tersebut.Dia merinci, diantaranya ada 6 efek terdiri dari 1 seri Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang diterbitkan PT Garuda Indonesia Tbk, 2 seri obligasi yang diterbitkan PT Pembangunan Perumahan Tbk, dan 3 seri obligasi yang diterbtikan PT Wijaya Karya Tbk.Advertisement“Beberapa seri jumlahnya 6. Itu juga sangat membantu kami dalam melakukan recovery aset sehingga bisa sampai kembali kepada angka Rp1 triliun,” kata dia di Gedung Merah Putih KPK Jakarta, Kamis .Ronny menambahkan, nantinya ketika proses hukum dari eks Dirut PT Taspen, Antoius Kosasih sudah inkrah, maka dipastikan aset bisa dikelola dengan optimal dan kembali ke angka Rp 1 triliun dalam waktu dekat.“Paling penting adalah langkah KPK kali ini memperkuat kepercayaan para peserta Taspen, yaitu para pensiunan dan seluruh ASN yang akan memasuki masa usia pensiun. Bahwa Tiap rupiah peserta adalah amanah besar yang kami kelola dengan prinsip kehati-hatian tertinggi,” jelas dia.Ronny juga menegaskan, apa yang telah kembali, dapat dipergunakan sebaik mungkin untuk kemaslahatan dana pensiunan ASN.“Negara hadir dalam melakukan pemulihan aset Taspen yang telah dikorupsi oleh oknum-oknum. Ini momentum penting yang kita saksikan dan merupakan capaian strategis dalam memastikan penguatan pengelolaan aset negara serta penguatan kepercayaan dan legitimasi institusi di masyarakat,” kata dia.  


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 00:04