Bencana Beruntun Terjang Cilacap, Akses Terputus: Tim Kaisar KKSP Salurkan Bantuan Sembako

2026-02-02 23:39:41
Bencana Beruntun Terjang Cilacap, Akses Terputus: Tim Kaisar KKSP Salurkan Bantuan Sembako
Cilacap Rentetan bencana kembali menyelimuti Kabupaten Cilacap. Belum tuntas pemulihan akibat longsor sebelumnya, wilayah ini kembali diterjang banjir dan puting beliung yang melanda dua kecamatan berbeda. Sedikitnya 92 rumah warga mengalami kerusakan, sementara bantuan sosial segera disalurkan oleh Anggota Komisi XI DPR RI dari Dapil Cilacap, Kaisar Kiasa Kasih Said Putra (Kaisar KKSP), melalui tim relawannya, Sobat Kaisar.Bencana kali ini terjadi secara bertahap dan beruntun. Banjir pertama kali melanda Desa Pahonjean di Kecamatan Majenang dan Desa Sidamulya di Kecamatan Wanareja pada Sabtu, 15 November 2025. Dua hari kemudian, pada Senin, 17 November 2025, angin puting beliung menerjang Desa Madura di Kecamatan Wanareja, memperparah kondisi warga yang masih bergelut dengan genangan air.Secara total, 92 rumah terdampak dari dua kejadian tersebut. Sebanyak 40 rumah rusak akibat puting beliung di Desa Madura, sedangkan banjir merendam 25 rumah di Pahonjean dan 27 rumah di Sidamulya.AdvertisementMenghadapi situasi darurat, Tim Sobat Kaisar bergerak cepat meski harus menghadapi kendala akses. Ketua tim, Mahfudzen Adi Prabowo, menjelaskan bahwa tim baru berhasil mencapai lokasi pada Kamis malam, 20 November 2025. "Tim merapat hari Kamis pukul 18.00, karena wilayah banjir belum bisa dimasuki mobil sebelumnya," ujarnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 22:12