JAKARTA, - Masyarakat perkotaan seringkali berorientasi pada pekerjaan formal, bergaji tetap, dan standar pendidikan tertentu, profesi perias jenazah muncul sebagai sebuah fenomena unik.Tidak banyak orang yang menekuni bidang ini, dan justru karena kelangkaannya, pekerjaan ini dianggap sebagai sebuah calling, panggilan hati yang tidak hanya soal materi, melainkan dedikasi, kemanusiaan, dan keberanian menghadapi kematian secara langsung.Kompas.com menelusuri lebih dalam dunia perias jenazah melalui wawancara dengan sosiolog Rakhmat Hidayat dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).“Semakin suatu pekerjaan langka, jarang digeluti, atau tidak menarik bagi sebagian besar orang, maka pekerjaan itu cenderung menjadi panggilan, atau calling,” ujar Rakhmat saat dihubungi Jumat .Baca juga: Kisah Gloria Elsa, Perias Jenazah yang Mengabdi Lewat Pelayanan TerakhirIa menjelaskan bahwa perias jenazah adalah antitesis dari orientasi masyarakat perkotaan yang cenderung mengejar pekerjaan komersial, stabil, serta memiliki standar pendidikan dan administrasi formal.Sementara itu, mereka yang menggeluti profesi merias jenazah justru berhadapan dengan sesuatu yang masih distigmakan, kematian. “Kematian bukan sesuatu yang menyeramkan bagi mereka. Kematian adalah dunia mereka, sesuatu yang mereka hadapi setiap hari secara sosial,” tuturnya.Dalam perspektif sosiologi pekerjaan, profesi ini masuk kategori kerja yang tidak tercatat, tidak terstandar, dan tidak memiliki pengakuan formal.Karena itu, pelakunya sering mengalami marginalisasi maupun stigma sosial.“Mereka bekerja dengan hati. Mereka tidak money oriented. Namun secara materi, sering justru tidak mendapatkan kompensasi yang layak,” ujar Rakhmat.Gloria, Perias Jenazah Salah satu perias jenazah yang menekuni profesi ini di Jakarta adalah Gloria Elsa Hutasoit (42).Gloria bekerja di wilayah DKI Jakarta, namun bila diminta, ia juga menerima jasa di luar kota.Dalam sehari, ia dapat menangani satu hingga tiga jenazah, tergantung kebutuhan.“Dalam sehari bisa satu sampai tiga jenazah. Tapi ada hari-hari di mana saya tidak merias sama sekali,” ujarnya ketika dihubungi Jumat .Baca juga: Kehidupan Perias Jenazah yang Memberi Keindahan Terakhir bagi yang PergiKepiawaiannya merias jenazah bukan datang tiba-tiba. Ia sudah menyukai makeup sejak kecil.Ibunya, yang berprofesi sebagai perawat sekaligus terlibat dalam pelayanan memandikan jenazah di gereja, memperkenalkannya pada pekerjaan ini sejak muda.Momen paling menentukan adalah ketika ia merias tante yang meninggal dan berprofesi sebagai pemulung di tahun 2001.“Di situ saya tergerak. Saya ingin memberikan pelayanan agar pengantin Tuhan dipersiapkan dengan layak di hari terakhirnya,” ujar Gloria.Sejak saat itu, Gloria pun mulai menekuni profesi sebagai perias jenazah, namun terbatas hanya di kalangan keluarga dan gereja saja.Barulah di tahun 2016, ia mulai menjalankan karier tersebut secara profesional.Ia menganggap hal tersebut bukan pekerjaan, melainkan bentuk pelayanan kemanusiaan.Tentu, tidak semua orang mampu dengan mudah menghadapi tubuh yang telah tak bernyawa.
(prf/ega)
Perias Jenazah Bukan Sekadar Pekerjaan
2026-01-11 03:47:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:30
| 2026-01-11 03:27
| 2026-01-11 02:58
| 2026-01-11 02:30
| 2026-01-11 01:37










































