Alarm BRIN: Pengasaman Laut di Paparan Sunda 2 Kali Rata-rata Global

2026-01-12 04:45:57
Alarm BRIN: Pengasaman Laut di Paparan Sunda 2 Kali Rata-rata Global
- Pengasaman laut (ocean acidification), perubahan kimiawi senyap yang terjadi ketika karbon dioksida (CO2) dari atmosfer larut ke dalam air laut, kini menjadi ancaman mendesak bagi perairan Indonesia.Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa laju penurunan pH di kawasan Paparan Sunda—termasuk Laut Natuna dan Laut Jawa—berlangsung dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.Profesor Riset Biogeokimia Laut BRIN, A’an Johan Wahyudi mengungkapkan bahwa tren penurunan pH di Paparan Sunda mencapai -0,043 unit per dekade.Angka ini jauh melampaui rata-rata global yang berada di -0,019 unit per dekade.Baca juga: Spesies Baru Ditemukan di Laut Dalam Saat Uji Coba Tambang MineralA’an menjelaskan, penurunan pH sekecil 0,1-0,2 unit saja sudah sangat berdampak signifikan pada organisme laut berkalsium.“Penurunan pH laut sebesar 0,1–0,2 unit (misalnya dari 8,1 menjadi 7,9–7,8) dapat menurunkan ketersediaan ion karbonat secara signifikan dan berdampak pada organisme seperti karang dan kerang, yang artinya bisa sangat berdampak pada ekosistem laut,” terangnya dikutip dari laman BRIN.A’an menekankan bahwa tren penurunan -0,04 unit per dekade di Paparan Sunda berarti pH laut yang saat ini berada di kisaran 8,0 akan turun menjadi sekitar 7,96 dalam 10 tahun mendatang.Secara kasat mata angka ini kecil, tetapi bagi terumbu karang, pergeseran tersebut sangat signifikan.“Jika kondisi menjadi lebih asam, kalsium karbonat akan terlarut. Artinya, karang dan organisme berkalsium tidak bisa tumbuh optimal,” kata A’an.Penelitian BRIN bersama Nanyang Technological University (NTU) dan National University of Singapore (NUS) di Selat Singapura menunjukkan bahwa pH laut di wilayah Paparan Sunda sering berada di bawah angka 8.Selain itu, kejenuhan aragonit—parameter vital untuk pertumbuhan terumbu karang—sering jatuh di bawah 2,5, padahal karang membutuhkan nilai 2,5-4 untuk tumbuh optimal.Laju pengasaman yang luar biasa cepat ini disebabkan oleh kombinasi dua faktor, bukan hanya penyerapan CO2 dari atmosfer.A’an menjelaskan adanya tekanan tambahan berupa aliran karbon organik dari lahan gambut Sumatera dan Kalimantan.“Di kawasan tropis seperti kita, proses biogeokimia lokal membuat pengasaman laut berlangsung lebih cepat,” tambah A’an.Bahan organik dari gambut terbawa ke laut melalui sungai, terurai, dan mempercepat penurunan pH.


(prf/ega)