GOTO Catat Rugi Bersih Rp 775,55 Miliar, Susut 82 Persen dari Rp 4,31 Triliun

2026-01-15 02:34:52
GOTO Catat Rugi Bersih Rp 775,55 Miliar, Susut 82 Persen dari Rp 4,31 Triliun
JAKARTA, - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) telah memangkas rugi bersih atribusi menjadi tersisa Rp 775,55 miliar, dari rugi bersih sebelumnya yang mencapai Rp 4,31 triliun atau terpangkas 82 persen.Melansir dari Laporan Keuangan GoTo Kamis , rugi periode berjalan juga mampu diturunkan menjadi Rp 996,98 miliar atau dipangkas hingga 78 persen dari sebelumnya Rp 4,54 triliun.Lebih lanjut, dilihat dari sisi pendapatan bersih, naik sebesar 14 persen sepanjang 9 bulan tahun ini menjadi Rp 13,30 triliun, tumbuh dari pendapatan bersih periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 11,66 triliun.Baca juga: GoTo Dukung Rencana Pemerintah Terbitkan Perpres Ojek OnlineHal ini berkat naiknya pendapatan dari pos jasa pengiriman sebesar Rp 4,24 triliun, imbalan jasa Rp 4,14 triliun, pinjaman Rp 2,67 triliun, dan imbalan jasa e-commerce menjadi Rp 627,81 miliar.Direktur Utama Grup PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Patrick Walujo, dalam siaran pers, mengatakan bahwa GOTO mencatatkan pencapaian baru dengan meraih laba sebelum pajak yang disesuaikan sebesar Rp 62 miliar pada kuartal III 2025.Hal tesebut menjadi capaian penting bagi ekosistem digital terbesar di Indonesia tersebut, menandai peralihan dari fase restrukturisasi menuju profitabilitas berkelanjutan.Hingga akhir September 2025, GoTo memiliki total aset Rp 42,11 triliun, dengan sebaran nilai kas dan setara kas serta kas yang dibatasi penggunaannya mencapai Rp 18,65 triliun.Adapun ekuitas tercatat sebesar Rp 29,10 triliun. EBITDA yang disesuaikan grup tumbuh 239 persen secara tahunan menjadi Rp 516 miliar.Total nilai transaksi bruto (GTV) inti mencapai Rp 102,8 triliun, naik 43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.GOTO berharap pencapaian ini dapat berkelanjutan.Perseroan menaikkan panduan EBITDA Grup yang disesuaikan setahun penuh 2025 dari Rp 1,4 triliun-Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,8 triliun-Rp 1,9 triliun.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-15 02:06