Batas Tektonik Afrika dan Asia Perlahan Menjauh, Ada Apa?

2026-01-15 06:35:13
Batas Tektonik Afrika dan Asia Perlahan Menjauh, Ada Apa?
- Batas tektonik antara Afrika dan Asia perlahan-lahan saling menjauh.Bukti baru menunjukkan bahwa sebuah retakan di dekat perbatasan kedua benua tersebut perlahan-lahan terpisah dengan kecepatan yang sangat lambat.Pergerakan ini terjadi di Teluk Suez Rift (Gulf of Suez Rift), sebuah patahan dalam di kerak Bumi yang membentang di sepanjang jalur laut sempit antara daratan utama Mesir dan Semenanjung Sinai, jembatan darat tempat pertemuan Afrika dan Asia.Patahan ini merupakan ujung dari retakan yang lebih besar, Red Sea Rift, yang membelah antara lempeng tektonik Arab dan Afrika sekitar 25 juta tahun yang lalu.Baca juga: Fosil Dinosaurus Berleher Panjang Tertua di Asia Timur Berusia 200 Juta Tahun DitemukanTeluk Suez Rift sebelumnya dianggap sebagai patahan "gagal" yang tidak aktif.Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa retakan di kerak Bumi ini ternyata lebih "hidup" dari yang diperkirakan.Dengan memeriksa bentuk Suez Rift dan posisi terumbu karang kuno yang kini berada di atas permukaan laut, para ahli geologi menemukan bahwa kerak Bumi di sini mengalami perenggangan hingga 0,55 milimeter setiap tahun.Para peneliti percaya temuan ini dapat menulis ulang buku teks geologi tentang patahan.Alih-alih hanya berstatus "aktif" atau "mati", patahan mungkin berkedip di sepanjang spektrum aktivitas, kadang-kadang bergerak diam-diam ketika dianggap sudah selesai.“Dengan terus mengalami perenggangan, Suez Rift tidak sesuai dengan klasifikasi patahan gagalnya, mungkin karena kedekatannya dengan batas lempeng aktif."Temuan ini menyoroti kebutuhan untuk menilai kembali patahan yang seharusnya tidak aktif secara global, menguji apakah deselerasi tanpa kegagalan sebagai jalur evolusioner umum dalam patahan intrakontinental,” tambah tim peneliti.Pergerakan halus Teluk Suez Rift tidak diperkirakan akan merobek Asia dan Afrika dalam waktu dekat, karena pergerakan lempeng tektonik adalah proses yang kompleks dan membutuhkan jutaan tahun.Namun, di tempat lain di wilayah tersebut, kekuatan tektonik diam-diam sedang mengatur panggung untuk pergeseran benua yang dramatis.Tidak jauh dari Teluk Suez, terdapat aktivitas signifikan dalam Sistem Celah Afrika Timur (East African Rift System), salah satu patahan terbesar di dunia yang membentang melalui banyak negara.Baca juga: Fosil Ikan Purba Ditemukan di China: Spesies Baru Coelacanth Tertua AsiaBukti menunjukkan bahwa aktivitas ini dapat menyebabkan lempeng tektonik Somalia secara bertahap terlepas dari lempeng Nubia yang lebih besar, menyebabkan laut baru membanjiri celah tersebut.Secara esensial, ini akan menghasilkan pemotongan Afrika Timur dari daratan induk.Meskipun kabar baiknya adalah proses ini tidak akan terjadi dalam jutaan tahun mendatang, Suez dan celah Afrika Timur menggambarkan bahwa Bumi jauh dari bola batu yang statis dan tidak berubah.Permukaan planet kita mungkin terasa kaku dan abadi dari sudut pandang manusia, tetapi ia terus menerus, secara halus membentuk kembali dirinya sendiri.Studi ini diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-15 04:50