- Perusahaan dagang Belanda Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) kerap diajak atau dimintai campur tangan dalam berbagai urusan politik kerajaan di Nusantara.Hal tersebut disampaikan sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana. VOC sendiri didirikan pada Maret 1602 dan dibekali hak istimewa bernama oktroi.Hak ini memungkinkan VOC memiliki angkatan bersenjata, berperang, membuat perjanjian politik, hingga menguasai wilayah.“Kehadiran VOC di Nusantara sebenarnya bertujuan untuk berdagang dan tidak memiliki kebijakan teritorial yang jelas,” ujar Sri saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa .Namun, kata dia, VOC pada akhirnya bisa menguasai wilayah yang luas karena ikut campur dalam konflik politik kerajaan-kerajaan di Nusantara.Baca juga: Kisah Pengkhianatan Tumenggung Endranata, Orang Kepercayaan Sultan Agung yang Jual Rahasia Mataram ke VOCSri Margana menjelaskan, konflik internal sebenarnya sudah lama terjadi di berbagai kerajaan Nusantara, terutama terkait perebutan tahta dan pemberontakan.Dalam situasi seperti itu, salah satu pihak yang berseteru kerap mencari dukungan VOC.“Dalam konflik suksesi, biasanya ada pihak yang meminta VOC menjadi sekutu. Begitu pula dalam pemberontakan, VOC sering dimintai bantuan,” jelasnya.Sebagai imbalan atas bantuan tersebut, VOC memperoleh konsesi wilayah. Dari sinilah VOC bisa memonopoli perdagangan dan menerapkan kebijakan ekonomi sesuai kepentingannya.Sri menyebut fenomena ini sebagai invited colonialism atau kolonialisme yang “diundang” oleh elite pribumi.“VOC membantu dengan perjanjian-perjanjian yang isinya biasanya penguasaan wilayah tertentu. Wilayah yang disasar umumnya pesisir dan pelabuhan-pelabuhan penting,” ungkap Sri.Baca juga: Sejarah dan Isi Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, Siasat Licik VOC Memecah Mataram Salah satu contoh campur tangan VOC terjadi saat pemberontakan Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar pada 1680-an.Sultan Haji memberontak atau berkhianat kepada ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa yang saat itu menjadi raja Kesultanan Banten.“Banten itu ya Sultan Haji itu yang Sultan Haji. Sultan Haji memberontak melawan ayahnya itu. Dia mengajak kerja sama VOC. Akhirnya VOC memperoleh kebijakan di Banten,” kata Sri.“VOC mendapatkan wilayah konsesi, bisa membangun gudang-gudang perdagangan. Kan Banten pusat perdagangan lada,” imbuhnya.Baca juga: Benarkah VOC Bangkrut karena Merekrut Pekerja Indonesia yang Bermental Korup?
(prf/ega)
Mengapa VOC Sering Ikut Campur Urusan Kerajaan Nusantara? Ini Kata Sejarawan
2026-01-11 22:57:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:28
| 2026-01-11 22:30
| 2026-01-11 21:55
| 2026-01-11 21:54
| 2026-01-11 21:15










































